Pengalaman mencerahkan di Tanah Suci

Alhamdulilah, pada bulan April lalu saya dan partner bisnis saya bisa menunaikan Umroh ke Tanah Suci. Kami memang punya cita – cita bagaimana para pemegang saham perusahaan kami bisa umroh paling tidak sekali dalam 2 tahun. Dan kami juga mempunyai program mengumrohkan karyawan kami yang loyal dan berprestasi secara bergiliran setiap tahunnya. Mohon doanya semoga cita – cita kami ini bisa terwujud, aamiin.

Well, umroh ini adalah umroh perdana saya. Dan seperti halnya umat Muslim lainnya, perjalanan ke Tanah Suci ini adalah perjalanan yg diidam – idamkan sejak dulu. Dan kalo kata orang saya baru dipanggil, ya memang rasanya ko begitu. Malu rasanya sama Allah, ketika kita sudah diberikan rezeki oleh Nya, tapi kok ya saya lebih milih untuk bepergian ke negara lain dulu.  Padahal Rasul SAW bilang sebaik – baiknya perjalanan adalah berziarah ke 3 mesjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Mesjid Aqsha di Yerusalem. Masya Allah!

Seperti halnya yang dirasakan oleh orang yg sudah pernah berumroh atau berhaji, tentu banyak hal yang sangat berkesan selama kita disana. Terutama pastinya adalah kita bisa melihat Kabah dengan mata kepala kita sendiri dan bisa shalat langsung menghadap Kabah. Bangunan yang selama ini hanya ada dalam bayangan saja. Shalat bersama puluhan bahkan ratusan ribu jamaah dari berbagai bangsa adalah pengalaman yang sangat menggetarkan hati.  Jamaah yang berkulit putih, kuning, sawo matang atau jamaah berkulit hitam, semua menundukkan pandangan ke bangunan yang sama, Baitullah. Saat berkesan lainnya adalah ketika kita bisa bershalawat langsung di depan makam Nabi kita tercinta di Madinah, sesuatu yg selama ini hanya dapat kita lakukan dari jarak yang jauh.

Orang bilang, pasti akan ada pengalaman spiritual yang kita rasakan disana. Dan Alhamdulillah saya banyak mengalami kejadian yang mencerahkan hati saya. Kejadian seperti misalnya seorang anak yang mendorong kursi roda orang tuanya yang sudah sepuh untuk berthawaf dan bersai. Atau ketika ditengah desakan banyak orang, saya melihat seorang wanita yang sekuat tenaga melindungi Ibunya yang sudah tua yang ingin berdoa di Multazam. Kejadian lain dimana saya melihat seorang ayah yang dengan penuh kasih sayang mendorong kursi roda anaknya yang sepertinya menderita Down Syndrome. Tidak sedikitpun terlihat sang ayah malu terhadap keadaan anaknya itu.  Malah dengan penuh kasih sayang dia menjaga dan melayani kebutuhan anaknya itu. Terharu rasanya melihat kasih sayang yg tulus dari seorang ayah kepada anaknya, juga kasih sayang seorang anak terhadap orang tuanya.

Pengalaman lain adalah, ketika hampir semua orang berlomba – lomba berbuat baik kepada sesama. Seperti misalnya, selalu ada saja orang yang bersedekah kurma dan air minum, terutama saat – saat berbuka puasa. Atau ketika kebanyakan orang yang tidak langsung bubar setelah shalat wajib, tapi ikut shalat jenazah dulu dan berlomba – lomba mengangkat keranda jenazah tersebut saat akan diantarkan ke pemakaman.  Mayoritas orang selalu tersenyum dan saling mengucapkan salam kepada sesama. Ah, indahnya persaudaraan dalam Islam.

Namun, bukan berarti kesucian Mekkah dan Madinah kemudian bisa membuat semua orang tiba – tiba berubah menjadi malaikat ya.  Diantara sekian banyak pengalaman yang berkesan tadi, pasti ada satu dua pengalaman yang kemudian membuat kita sadar bahwa kita masih hidup di dunia dimana kebaikan dan keburukan saling berlomba mengambil perannya, bahkan di kota Suci sekalipun. Seperti ketika saya selesai menunaikan ibadah Umroh dan ingin mencukur botak kepala saya, kami pergi ke kios cukur rambut tidak jauh dari Mesjid Haram. Hanya sepelemparan batu dari Kabah, saya hampir saja dicurangi sama tukang cukur disana. Dia meminta biaya cukur hampir dua kali lipat dari harga kesepakatan awal. Untungnya akhirnya setelah sedikit berdebat, kami tetap membayar sesuai kesepakatan hehe. Bahkan di area Kabah sendiri akan banyak juga kita temukan calo untuk orang yg ingin mencium Hajar Aswad. Dan ironisnya, banyak jg orang Indonesianya loh *sigh. Well, kita harus membayar sekian ratus Riyal untuk bisa mencium hajar aswad, tapi pencapaian itu kita dapat dengan menzolimi orang lain. Gerombolan si calo itu tidak segan untuk mengasari jamaah lain untuk membentuk barikade yang bisa memudahkan orang yang sudah membayar untuk mencium Hajar Aswad. Ustadz saya bilang, mencium Hajar Aswad itu sunnah, sebisa mungkin jangan pernah melakukannya tapi dengan jalan menzolimi orang lain.

Pengalaman yang paling berkesan buat saya adalah ketika kami masih berada di Madinah. Ketika saya dan rekan saya serta rombongan lain sarapan pagi di hotel tempat kita menginap. Saya bertemu dengan seseorang yang awalnya saya kira orang Turki, ternyata orang Solo hehe. Ketika ngobrol – ngobrol itu, kemudian saya jadi tau bahwa bapak ini sudah berkali – kali Umroh dan Haji. Dia bilang umroh bisa 4 kali dalam setahun, kalo haji karena sudah sering dia memberikan kesempatan kepada jamaah yang belum dulu. Sama sekali tidak ada kesombongan dari nada bicaranya. Ketika saya tanya apa amalannya yang dia lakukan sehingga bisa berumroh berkali – kali? Dia bilang yang pertama adalah ya kita minta aja sama pemilik alam ini, minta supaya kita diberi kesempatan untuk bisa berumroh tanpa putus. Yang kedua,  setiap abis shalat dia selalu mendoakan kaum Muslimin yang lain, tidak hanya berdoa untuk dirinya atau keluarganya saja. Dan yang ketiga adalah kita wajib memuliakan orang tua kita, terutama Ibu kita. Kita harus meluangkan waktu untuk sesering mungkin mengunjungi mereka. Bapak itu bilang, doa mereka adalah doa mustajab yang langsung tembus langit. Jadi untuk dimudahkan segala urusan kita, ya kita jg harus sering – sering minta doa kepada orang tua kita.

Hmm, pengalaman seperti itulah yang bisa membuat rongga didada ini terasa lapang,  mampu menciptakan butiran air di sudut mata kita dan pengalaman itulah yang bisa membuat kita selalu merasakan rindu untuk bisa kembali kesana. Semoga kita bisa menjadi orang yang pantas untuk diundang Allah ke rumah Nya, aamiin

View All

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *