Lost in Translation in China

Salah satu tantangan yang harus kita hadapi saat traveling adalah Bahasa. Hello, ga semua orang didunia ini bisa berkomunikasi in English loh. Bahkan di kota – kota besar sekalipun. Well, hal seperti itu yang saya jumpai saat saya traveling ke China saat saya mengunjungi Hangzhou, Shanghai dan Beijing di bulan September 2012 lalu. Ternyata salah satu pengalaman lost in translation terberat yang pernah saya hadapi adalah ketika saya berada di kota megapolitan tersebut, gosh.

Petualangan kami dimulai saat kami harus transit di Hangzhou dengan pesawat dari Singapore. Kami menginap di satu hotel yang ngga jauh dari Airport sambil berisitirahat untuk meneruskan perjalanan saya ke Shanghai keesokan harinya. Believe it or not, ga ada satupun staff hotel itu yang bisa bahasa Inggris. Bahkan di resepsionis sekalipun. Alhasil kami berkomunikasi dengan bahasa isyarat, bahasa tarzan. Jadi lucu aja, kami ngomong English, mereka nanggepin dengan bahasa Mandarin. Ya udah karena kesel, kita nomong aja bahasa Indonesia campur bahasa Sunda, toh mereka juga sama – sama ngga ngerti hehehee.  Jadi inget saat saya traveling ke Macau di tahun 2009. Waktu saya check in di hostel di daerah Senado Square, resepsionis di sana adalah seorang wanita tua, Chinese.  Setiap saya ngomong sesuatu dalam bahasa Inggris,  dia menunjuk – nunjuk satu kertas di atas mejanya. Ternyata di situ sudah tertera kata – kata yang biasa diucapkan oleh tamu disana. Misalnya kalo kita minta handuk, sabun, kita tinggal menunjuk kata handuk, dan karena ada padanan katanya dalam bahasa mandarin, dia jadi mengerti maksud kita. Kreatif juga idenya hehehe

Cerita perjalanan di Hangzhou berlanjut saat kami  kesulitan ketika hendak membeli tiket kereta di stasiun kereta Hangzhou. Muter – muter ga karuan, tanya sana – sini ga ada yg lancar English. Tanya ke polisi disanapun percuma karena mereka juga ngga bisa. Hampir semua papan petunjuk disana dalam huruf mandarin, ga banyak yg tulis dengan huruf latin. Hampir 1 jam kami muter – muter di stasiun untuk nyari pembelian tiket untuk turis asing. Sampai kemudian kami pasrah dan sambil istirahat kami pergi ke bank lokal untuk nuker uang. Yang nyebelin, petugas bank nya aja ga lancar bahasa inggris hehehe Sampai akhirnya kami ketemu seorang wanita yang mau berbaik hati mengantarkan kami untuk membeli tiket. Untungnya lagi, dia lagi kursus bahasa inggris. Dia mau loh nganterin kita beli tiket, sampai nganterin kita ke pintu masuk keberangkatan. Wow, memang kalo udah pasrah, pasti pertolongan Allah akan datang 🙂 Oia, tiket kereta di China itu hampir bertuliskan mandarin semua. Musti tanya dulu sama petugas atau orang yg ngerti, apa maksud dari huruf – huruf itu hehe. Ini penting, karena dalam tiket itu ada semua informasi yg kita harus tau seperti jam keberangkatan, nomor gerbong, nomor kursi dan dari jalur mana kereta itu akan berangkat.

Waktu di Shanghai, kami juga menghadapi kesulitan saat kami mencari alamat. Bayangkan, Shanghai loh yang katanya salah satu kota megapolitan di dunia. Waktu kami nyari – nyari gedung lokasi tempat expo yang mau kita datangi, dari kira – kira sepuluhan orang yang kami temui di jalan atau di gedung, ga ada satupun yang bisa bahasa Inggris. Hampir sejaman juga muter – muter nyari gedungnya, akhirnya kami nekad masuk ke satu gedung nanya ke petugas disana. Dan yang membuat kami impress adalah, petugas itu tidak membalas ucapan kami sama sekali, tapi sekian detik kemudian dia berlari keluar. Kami kira kenapa, ternyata dia memanggil rekannya yang udah hampir naik taxy untuk membantu kami. Hmm, mereka memang ngga lancar bahasa inggris, tapi mereka tetap mau menolong orang lain yang kesulitan 🙂

Saat perjalanan berlanjut ke Beijing, kami harus mengalami hal yang sama.  Kami hampir selalu kesulitan saat mencari alamat, atau saat hendak membeli tiket kereta. Herannya, petunjuk di stasiun metro justru malah sangat menolong kita. Karena selain bahasa mandarin, petunjuk dalam bahasa Inggris juga ada dimana – mana. Mungkin salah satu contoh orang yang bisa bahasa inggris di China adalah para penjual barang di toko – toko cenderamata. Waktu cari oleh – oleh di Wanfujing Street, takjub juga setiap kami lewat pasti ada aja penjual yang teriak “murah – murah” ke kita, maklum muka Melayu gampang dikenali hahaha. Dan walaupun dengan bahasa inggris sederhana, itu sangat membantu dalam proses transaksi dengan mereka.

Oia, jika kita bepergian di China, penting bagi kita untuk selalu membawa kartu nama hotel tempat kita tinggal (atau meminta petugas hotel untuk menuliskan nama hotel mereka dalam huruf mandarin di atas kertas) dan penting juga untuk selalu membawa peta yang dua bahasa, ada huruf latin dan mandarinnya. Untuk memudahkan kalo kita naik taxy atau tanya orang misalnya, kita tinggal nunjuk aja lokasi yang mau kita datangi di atas peta itu.

Well, dari pengalaman saya ini, akhirnya saya berkesimpulan bahwa bahasa Inggris memang bahasa Internasional, tapi bukan berarti semua manusia di planet ini akan bisa berkomunikasi dalam bahasa itu. Ada bahasa yang lebih luas lagi tingkat penerimaannya yaitu bahasa hati 🙂 Ga usah takut tersesat dalam setiap perjalanan, karena orang baik itu ada dimana – mana 🙂

View All

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *