Dari Timor Leste ke Timor Barat, dari Dili menuju Kupang!

Pada akhir Desember 2013 lalu, mendadak ada urusan bisnis yang membuat saya harus segera berangkat ke Dili Ibu Kota Timor Leste untuk satu misi penting: memastikan proposal tender bisa sampai tepat waktu di loket penerimaan. Mengingat waktu yang mepet tidak ada satupun perusahaan jasa pengiriman yang sanggup menjamin proposal kami itu bisa sampai tepat pada waktunya.  Akhirnya saya memutuskan untuk berangkat langsung mengingat nilai tender project tersebut yang sangat besar. Ya sudah, seperti yang sudah ditakdirkan, akhirnya saya berkesempatan untuk mengunjungi Dili Timor Leste, negara ke 15 yang pernah saya kunjungi.  Cerita pengalaman saya selama mengunjungi Dili bisa di lihat disini, namun pada tulisan ini saya ingin share pengalaman saya menyusuri jalanan dari Timor Leste ke Timor Barat, dari Dili menuju Kupang.

Well, mengunjungi Dili disaat suasana liburan natal dan tahun baru adalah berarti kita harus berjuang untuk bisa mendapatkan satu slot bangku untuk perjalanan dari Dili ke Kupang. Dan saya yang memang berniat untuk meninggalkan Dili lewat darat menuju Kupang harus mengalami hal itu! Oia, saya sampai di Dili via Denpasar dengan menggunakan Merpati. Hanya ada 2 maskapai kita yang melayani rute Denpasar – Dili, yaitu Merpati dan Sriwijaya (data per tahun 2013). Tidak ada direct flight dari Jakarta ke Dili.

Sejak hari kedua saya di Dili, saya sibuk mencari tiket ke beberapa perusahaan travel yang melayani jalur Dili ke Kupang dengan minibus. Dan saya mulai panik ketika dimana – mana tiket habis dan baru akan available di hari setelah natal. Saya panik karena saya sudah terlanjur memesan tiket pesawat dari Kupang menuju Jakarta, memesan kamar hotel disana dan terlebih karena di tanggal 27 Desember saya akan menghadapi sidang thesis S2 saya. *Sigh

Setelah googling dan cari informasi sana – sini, akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan Dili menuju Maliana, kota di dekat perbatasan, dengan bus antar kota dari terminal Tasitolu. Informasi yg saya dapat, bus biasanya berangkat di malam hari dan bus terakhir akan meninggalkan terminal pada jam 5 subuh. Wow, tantangan banget untuk bisa bangun jam 4 waktu Dili (jam 2 WIB) dan kemudian segera bergegas menuju terminal.

Alhamdulillah, pada hari ketiga saya di Dili, saya bisa bangun tepat waktu dan bisa segera pergi ke terminal dengan taxy. Namun, ternyata sesampainya saya di terminal, bus terakhir sudah penuh sesak dengan penumpang. Supir taxy yg saya tumpangi sempat bernegoisasi dengan sopir bis tersebut untuk bisa menyelipkan saya diantara jubelan penumpang. Namun ia gagal, bus sudah tidak mungkin lagi mengambil penumpang baru. Dan saya juga ngeri membayangkan saya berada di bus yang jelas jelas kelebihan muatan tersebut.

Saya memutuskan untuk tetap berada di terminal tersebut bergabung dengan orang – orang yang juga ingin pergi ke perbatasan, melintasi tapal batas untuk mengunjungi keluarga mereka. Informasi simpang siur, ada yg bilang bus tadi adalah bus terakhir, ada juga yg bilang masih ada bus yg akan berangkat jam 7 pagi dari Tasitolu. Ada juga yang menyarankan supaya saya naik truk terbuka bersama dengan penumpang yang lain, atau naik taxy ke perbatasan yang tentu akan menguras kocek saya karena sang sopir meminta 100 USD untuk perjalanan kesana. Wow! uang segitu sama dengan harga tiket pesawat dari Kupang ke Jakarta hehe

Saya kemudian tetap memutuskan untuk menunggu bus atau truk atau apapun angkutan selain taxy yangmenuju ke perbatasan. Dan Alhamdulillah, saya beruntung sekali pagi itu, karena tidak lama kemudian ada satu mikrolet dengan tujuan Motta Ain, kota kecil dekat perbatasan Indonesia – Timor Leste. Sang kenek berteriak begitu jelas di keheningan pagi itu “Motta Ain, 8 dollar!”. Langsung saja saya bergegas naik mikrolet bersama orang – orang lain yang sedari tadi sudah menunggu angkutan ke perbatasan. Mikrolet tadi seharusnya hanya cukup untuk konfigurasi 6 – 4 penumpang dibelakang dan 2 penumpang lagi di depan. Namun, karena pagi itu banyak sekali penumpang yang ingin menuju Motta Ain, akhirnya mikrolet tersebut segera dipenuhi oleh kurang lebih 17 orang dewasa dan 2 orang anak kecil. Ada 3 orang penumpang yang rela bergelantungan di pintu mikrolet yang melaju kencang. Ah, inilah potret negara baru merdeka, dimana keberadaan transportasi public masih sangat terbatas

Perjalanan dari Dili menuju Motta Ain ditempuh dalam waktu kira kira 5 jam perjalanan. Perjalanan yang akan saya ingat selalu karena pemandangan yang indah selama di perjalanan, menyusuri keindahan pantai selepas kota Dili, menyusuri perkampungan di pelosok Timor Leste dan ditemani oleh orang – orang yang baik dan ramah.

Saya sangat terkesan dengan keramahan orang Timor Leste. Sejak hari pertama saya di Dili, saya selalu disambut oleh keramahan mereka, dari mulai petugas hotel, supir taxy, polisi, orang – orang di jalan dan terakhir teman seperjalanan dari Dili menuju Motta Ain. Mereka tidak sungkan – sungkan menyapa saya, mengajak ngobrol, menawari saya makanan, menawari saya air, kemudian mengucapkan salamperpisahan sambil berdoa untuk keselamatan saya.  Ah, saya hanya hanya bisa berujar “Obrigado!”

Sesampainya di Motta Ain, saya masih harus melanjutkan perjalanan ke Batu Gede, dimana saya akan memasuki wilayah Indonesia, dengan ojek seharga 5 USD. Proses imigrasi di wilayah Timor Leste tidaklah serumit yang saya kira, setelah mengisi Departure Card, saya kemudian menuju loket imigrasi yang kemudian dengan penuh senyum mengucapkan kalimat “selamat tinggal”. Keribetan malah muncul ketika saya masuk ke imigrasi Indonesia, dimana saya harus melalui 3 pos dari mulai imigrasi, bea cukai dan terakhir pos keamanan TNI.

Namun keberuntungan saya hari itu berlanjut, tiba – tiba pak TNI yang berjaga di imigrasi, menawari saya tebengen dengan Inova yang akan menuju Atambua. Wah kebetulan banget, pergi ke Atambua naik Inova hehe, gratis pula!

Perjalanan menuju Kupang masih berlanjut, saya memilih naik bis kecil non AC dengan harga tiket hanya 60ribu perak, cukup murah untuk durasi perjalanan sepanjang 8 jam. Sepanjang perjalanan itu siap siaplah menghadapi kelihaian pak supir yang ngebut di jalanan berkelok ala Trans Timor yang melegenda itu. Tapi tenang, sepanjang perjalanan kita akan ditemani oleh musik era 80an sd 90an ketika Obie Mesakh dkk Berjaya di udara hehe.

Keberuntungan saya terus berlanjut karena di bus kecil itu saya bertemu dengan teman masa kecil yang sudah bertahun tahun tidak ketemu dan obrolan kami sepanjang perjalanan itu bisa membuat waktu perjalanan berjalan begitu cepat. Alhamdulillah, tepat 8 jam sejak bus bertolak dari Atambua, akhirnya kami bisa sampai dengan selamat di Kupang. What a journey, what a story! Terimakasih ya Allah 🙂

View All

6 Comments

  1. Wah, kebetulan aku malah pengin ke Dili pas natal. Kira-kira susah gak ya dapat tiketnya? Hehe.

    Reply

    1. Indra Kurniadi June 20, 2016 at 10:29 am

      Natal termasuk peak season di Timor Leste, mungkin akan sedikit susah mas bro utk dapet tiket PP ke sana..thanks anyway sudah mampir ke blog sayah ya mas ariev

      Reply

  2. oiiii..seruuu banget pengalamannya nge-trip ke Dili..! thanks a lot for sharing that enchanting story with us.. Saya minggu besok dapet tugas untuk survey flona ke Daerah Timor Barat (belum tau lokasinya dimana), trus langsung ‘cha-chiiing..’ punya rencana untuk coba nge-trip via darat dari timor Barat ke Dili.. Mugo-mugi tahun 2016 ini transport darat sana lebih baik yaa… Please if ada info lagi ttg trip Timor Leste, bisa share ke kita.. *regards, Duan **orang Bogor yg lagi tugas di Laut Aru

    Reply

    1. amiin..semoga terwujud ya rencana traveling ke dilinya..

      Reply

  3. Thankz yaa sudah menulis pengalamannya

    Reply

    1. Indra Kurniadi July 16, 2018 at 9:13 am

      sama2 mas sugiri

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *