Bersahabat dengan Google Maps di negeri orang

Selama ini kalo saya traveling kemana – mana pasti selalu mengandalkan hidup pada peta. Yah, walaupun kadang udah megang peta masih tetep aja sering nanya – nanya sama orang. Musti diakui kalo saya itu ga pandai dalam membaca peta.  Dan syukurlah kehadiran Google Maps sangat membantu dalam mengarahkan orang yang buta peta ini ke tujuan yang benar.

Saat saya traveling sendirian ke Italia pada bulan Januari 2014 lalu, saya menutuskan untuk membeli Sim Card local selama saya disana, saya membeli paket internet dari TIM di Stasion Termini Roma. SIM Card baru plus layanan internet sebanyak 200 MB yang berlaku selama seminggu saya di Italia itu hanya seharga 21 euro saja. Sangat murah dibandingkan kalo memakai Sim Card dari Indonesia, tagihan roaming internasionalnya bisa mencapai jutaan untuk pemakaian seminggu di Eropah. Kuota segitu sudah lebih dari cukup untuk cek email, cek facebook + twitter, upload foto ke instagram, chat di YM dan BBM dan yg lebih penting lagi untuk terus mantengin google maps selama kita berada di negeri orang.  Dan sejak itulah saya tergantung pada google maps setiap saya pergi. Dengan google maps, kita bisa mengetahui rute menuju tempat tujuan baik itu jika naik mobil, jalan kaki, atau naik bis karena di google maps akan menginformasikan no bus yang akan melewati lokasi yang kita tuju.

 Saya merasakan banyak manfaat ketika menggunakan Google Maps selama saya traveling di Italia. Selama saya berada di Roma, saya menggunakan google maps untuk menemukan hotel tempat saya menginap, menemukan counter penjual tiket Serie A, menemukan jalan menuju Trevi Fountain dari arah Colosseum, menemukan chinese resto terdekat, dan yang terpenting untuk menemukan stasion metro terdekat dari lokasi dimanapun kita berada.

 Di Florence, saya berhasil menemukan apartemen tempat saya menginap selama disana dengan mencocokkan rute selama bis berjalan dengan panduan google maps di HP saya. Ini penting, karena walaupun kita sudah naik bis dengan nomor bis dan tujuan sesuai petunjuk, seringkali kita ragu apakah bis itu betul – betul melewati tempat yang kita tuju. Terlebih kalo kita naik bis sendirian saat hari sudah gelap ditengah – tengah penumpang berwajah asing terkadang suka timbul perasaan kalo satu bis pengen nyulik kita hahaha. Nah dengan mencocokkan rute selama bis berjalan dengan panduan google maps, paling tidak kita akan merasa tenang selama perjalanan.

 Di Venice, saya berhasil menemukan hotel tempat saya menginap disana yang tidak jauh dari Piazza San Marco , dengan jalan kaki selama 30 menit dari Stasion kereta Santa Lucia, tanpa bertanya sama sekali dan hanya mengandalkan panduan dari om gugel. Selama di Venice, saya berhasil survive tanpa tersesat. You know, di Venice banyak gang – gang dan kanal2 yang bisa bikin turis bingung. Dengan google maps juga lah saya bisa menemukan chinese resto yang nyempil diantara bangunan lainnya *chinese resto melulu 😛

Rute jalan kaki dari Stasion Santa Lucia, ke Hotel tempat menginap di Venice

Waktu di Milan, saya menggunakan google maps untuk menemukan resto halal ga jauh dari stasion Milan centrale. Dari sana jalan kaki kira kira 20 menit menuju hostel tempat saya menginap di Via Alfredo Comandini juga hanya mengandalkan google maps. Dan selama 2 hari disana saya wira – wiri juga dengan mengandalkan google maps. *semoga penemunya masuk surga

 Dari semua keberhasilan menemukan tempat – tempat yang ingin saya tuju, ternyata ada juga pengalaman dimana saya dibawa “nyasar” oleh google maps. Seperti saat saya di Florence, saya pengen banget ke Piazza Michelangelo, satu tempat di mana kita bisa menikmati pemandangan indah kota Florence dari ketinggian. Ketika saya membuka google maps, saya liat jarak dari Duomo menuju kesana tidak terlalu jauh, kira – kira 20 menit berjalan kaki. Dengan pede, saya lanjutkan saja perjalanan dengan berjalan kaki, ternyata medannya lumayan berat karena naik turun dan bikin cape banget.  Sesampainya di Piazza Michelangelo, saya baru menyadari bahwa tempat itu terletak di pinggir jalan besar dan bisa dijangkau dengan bis kota. Ternyata google maps ngajak saya naik turun jalan berbukit dari arah bawah Piazza Michelangelo huhuhuhu

 Hal yang sama juga terjadi ketika saya di Verona dan ingin sekali menikmati keindahan kota Verona dari Castel San Pietro. Google maps memandu saya menyusuri jalanan berbukit yang membuat baju saya basah oleh keringat ditengah – tengah udara musim dingin. Baru ketika sampai diatas saya kemudian menyadari kalo google maps membawa saya dari arah belakang Castle, dari atas jelas terlihat jalanan besar dengan lalulalang kendaraan, jikapun kita tetap memilih jalan kaki menuju ke castle ini, tentu rutenya akan jauh lebih mudah *pengen banting HP tapi sayang.

 Waktu di Milan, saya mengandalkan google maps sebagai petunjuk arah ke San Siro dari stasion Metro Lotto, berjalan kaki selama 20 menit saat gerimis ditengah – tengah suhu 2 derajat bukan pilihan yang bijak sebenarnya. Dan ketika tour di stadion itu usai, saya diberitahu oleh petugas disana, ada bus kota no 49 dari stadium menuju metro.  Padahal google maps tidak menyebutkan ada bus dari metro menuju stadium.

 Pesan moral, perpaduan smartphone canggih plus sim card local dengan google maps dapat membuat perjalanan kita akan jauh lebih mudah. Namun, ternyata menggantungkan diri sepenuhnya kepada satu perangkat secanggih apapun bukan hal yang bijaksana juga, karena dalam setiap perjalanan akan lebih bijak jika kita bisa meluangkan waktu untuk berbicara dengan penduduk local atau sharing dengan sesama traveler, satu hal yang tidak akan kita dapatkan dari seperangkat alat canggih sekalipun. Seringkali informasi seperti restoran terenak dengan harga terjangkau atau rute terdekat menuju tujuan malah akan kita dapatkan dari penduduk local atau rekan sesama traveler, bukan dari google maps. Satu lagi, sekali – sekali tidak menggantungkan diri pada peta alias siap nyasar juga seru loh hihihihi *ketawa setan

 Happy traveling guys 🙂

View All

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *