Traveling saat low season

Apa enaknya coba traveling saat high season? Pesawat + hotel mahal, apa – apa mahal. Udah gitu, manusia pasti ada dimana – mana saat high season tiba. Ga percaya? Coba aja pergi ke Jogja atau ke Bali saat libur sekolah, libur lebaran atau saat libur akhir tahun. Pasti penuh sesak!
Bulan Juni lalu saya ke jogja, bukan dalam rangka liburan sih lebih tepatnya business trip. Dan saya merasakan sekali bagaimana suasana Jogja saat liburan sekolah datang. Bo, Mailoboro penuh sesak! Mau sekedar jalan – jalan di Malioboro aja sangat ga nyaman karena berdesak – desakan. Udah gitu cari hotel juga susah karena rata – rata sudah penuh. Saat saya traveling ke Hongkong dan Makau di bulan Juli 2009 pun begitu, jalanan, toko – toko dan obyek wisata ramai sekali dengan manusia. Buat saya, itu mengurangi kenyamanan saya dalam traveling
So, saya lebih senang bepergian saat low season. Di saat low season, hotel – hotel akan menurunkan rate kamar mereka dan maskapai penerbangan berlomba – lomba memberikan harga promo. Coba bandingkan ketika kita bepergian disaat high season, misalnya saat lebaran. Waktu libur lebaran yang baru lalu, saya bersama istri berencana untuk pergi liburan, tapi kemudian kami batalkan karena harga tiket dan hotel yang tidak reasonable. So better buat kami untuk menunda sebentar rencana liburan kami ke waktu yang lain.
Tapi buat saya, kenikmatan bepergian saat low season itu bukan hanya karena kita bisa mendapatkan tiket pesawat murah atau harga hotel yang bersahabat ya. Tapi juga karena menemukan suasana liburan yg nyaman, tidak penuh sesak dengan turis. Rasanya tenteram sekali hehe
Waktu saya ke phuket saat low season di bulan September 2010, selain saya bisa dpt tiket pesawat yg murah, saya juga bisa mendapatkan kamar hotel yang murah abis. Kamar nyaman di hotel setara hotel bintang 3 senilai cuma 15 USD! Suasana phuket yang tidak terlalu ramai adalah nilai utamanya.
Atau saat saya pergi ke Darjeeling juga disaat low season di bulan Februari 2010, saya pergi dgn tiket KL – Kolkata PP cuma senilai 120 USD. Disana saya bisa mendapatkan kamar hotel dengan jendela menghadap pegunungan Himalaya cuma senilai kurang lebih 12 USD. Dan lagi – lagi saya juga bisa mendapatkan suasana kota yang tenang. ย Saat saya traveling ke Barcelona dan Paris di bulan Maret 2011 pun begitu. Nyaman dan tenteram sekali rasanya bisa menikmati kedua kota indah itu di musim semi. Saya yakin pasti akan lain suasananya jika kita datang saat musim panas.
Low season jg akan berpengaruh saat kita apply visa. Waktu saya apply visa ke UK di bulan November, visa saya jadi hanya dalam waktu 2 hari saja. Tapi saat saya apply visa di bulan Juni, visa saya baru jadi setelah 2 minggu. Akibatnya pada waktu Juni 2012 kemarin, saya gagal berangkat ke UK karena visa saya baru jadi saat sudah melewati tanggal keberangkatan saya. Untungnya tiketnya bisa direfund hehe.
Namun perlu diingat, traveling disaat low season juga ada ga enaknya. Misalnya waktu saya ke Phuket di bulan September 2010, ternyata disana sedang musim hujan. So ga setiap hari kita bisa merasakan panasnya sinar matahari. Mungkin buat orang bule yg cari matahari sih akan jadi masalah, tapi buat saya ga terlalu masalah, malah enak karena udara jadi adem hehe.
So, traveling tidak hanya memilih tempat yg tepat untuk dikunjungi, tapi juga bagaimana kita dapat berkunjung pada waktu yang tepat. Waktu yg tepat berarti membuat rencana liburan kita tidak terganggu dengan tiket + hotel yang mahal atau terganggu dengan kepadatan turis di tempat wisata. So better cek ke om gugel, lonely planet atau wikitravel, saat2 low season di tiap2 tempat wisata. Karena low season tiap daerah itu berbeda – beda.
Happy traveling guys ๐Ÿ™‚
View All

One Comment

  1. jadi mau liburan lagi ๐Ÿ˜€

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *