Manila, 6 Tahun yang lalu

Wow, fesbuk mengingatkan saya akan perjalanan saya 6 tahun lalu, di tahun 2010, saat traveling ke Manila Filipina. Satu satunya perjalanan yg tidak ada dokumentasinya sama sekali karena semua foto yang ada di kamera DSLR tidak sengaja terhapus huhuhuhu *nangis bombay. Waktu itu saya traveling ke Manila hanya bermodalkan 150 Ribu perak saja dari Jakarta transit di KL lalu ke Manila via Clark (PP), hasil berburu tiket promo Air Asia setahun sebelumnya. Harga tiket yang sama dengan ongkos travel Jakarta Bandung PP, ini juga untuk membuktikan kalo traveling tidak harus mahal asal tau caranya hehehe.

Selama 3 malam traveling ke Manila, layaknya turis saya mengunjungi berbagai tempat wisata bersejarah di Manila seperti misalnya Intramuros, kota di dalam benteng peninggalan Spanyol yang masih terawat dengan baik, dan Rizal Park, tempat untuk mengenang pahlawan nasional mereka, Jose Rizal. Saya juga sempat menikmati sore hari di Manila Bay yang indah, pergi ke Makati dan melancong ke salah satu mall terbesar di Manila, Mall of Asia. Sempat juga nonton film di bioskop sana. Dan ternyata nonton film Hollywood disana tidak ada subtitlenya, barangkali karena hampir semua orang di Manila familiar dalam bertutur dengan bahasa Inggris. Selain pernah menjadi koloni Amerika, hampir semua orang yg saya temui disana bercita cita bekerja ke luar negeri. Mungkin itulah yang membuat banyak orang Filipina familiar dengan bahasa Inggris.

Orang orang di Manila ramah ramah dan wajahnya hampir sama dengan wajah orang Indonesia. Jadi ketika saya membuka percakapan dalam bahasa Inggris, awalnya mereka akan menatap dengan tatapan aneh, mungkin mereka berpikir sombong amat nih orang ga mau ngomong tagalog hehe. Tapi setelah mereka tau kalo saya turis dari Indonesia, mereka berubah sikap menjadi sangat ramah. Sebagai orang Sunda, saya juga merasa ada kesamaan dengan orang orang di Filipina yaitu sama sama tidak “fasih” mengucapkan kata F. Sebagai contoh, mereka melafalkan kata Five menjadi paip, hehehehe.

Salah satu pengalaman paling berkesan saat saya traveling ke Manila adalah pengalaman naik Jeepney, kendaraan iconic peninggalan pasukan Ameria yang dijadikan transportasi public disana. Suatu saat, saya kebagian duduk di tempat duduk dibelakang supir. Ternyata, setiap orang yang duduk disitu akan diberikan “tugas” istimewa menjadi asisten supir alias kenek. Jadi setiap penumpang lainnya membayar ongkos perjalanan lewat “kenek” begitupun kalo supir memberikan uang kembalian juga melalui kenek. Jauh jauh dari Jakarta ke Manila sempat juga merasakan jadi kenek di Jeepney hahahahaa.

Manila dikenal sebagai kota yang panas, penuh sesak dan berdebu, suasana yang mirip dengan Jakarta. Hampir semua turis yang berkunjung ke Manila hanya sekedar transit saja di Manila sebelum melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi wisata utama di Filipina seperti Boracay, Palawan atau Davao. Namun mengunjungi Manila walaupun sekedar transit tetaplah menarik, terutama untuk merasakan sensasi naik Jeepney hahahaa.

Manila, Salamat! (Thank you in Tagalog)

View All

One Comment

  1. Hahahaha.. Jadi jauh jauh ke luar negeri nyobain jadi kenek.. Tapi beda dong dengan kenek angkot ya? Trus itu five bisa jadi paip, jadinya pipa dong ( pipe) #lol
    Btw, sekarang pesawat pp harganya jadi 10x lipat euy #hiks

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *