Ramadhan di Negeri Orang

Ramadhan biasanya menjadi moment bagi saya untuk melakukan berbagai perjalanan, baik itu untuk tugas kantor maupun perjalanan semacam muhibah Ramadhan. Dalam beberapa tahun terakhir ini, saya malah banyak melakukan perjalanan di saat bulan puasa tiba. Kadang beberapa hari, adakalanya sampai berminggu minggu dan baru pulang menjelang Lebaran *bang toyyib mode on. Bulan puasa yang jatuh di bulan Juni/Juli bertepatan dengan berbagai acara meeting, conference dan expo yang harus saya hadiri di Eropa dan Timur Tengah.  Alhamdulillah, dibalik berbagai tantangan yang harus dihadapi, saya banyak mendapatkan pengalaman baru dengan berpuasa di negeri orang.

Ada banyak pengalaman yang berharga yang saya dapatkan saat menjadi musafir di bulan Ramadhan. Pengalaman yang sepertinya menjadi cara Allah untuk mengingatkan saya dengan caraNya yang unik. Seperti misalnya saat saya melakukan perjalanan ke Phuket, Thailand pada bulan Ramadhan 2009. Disana, saya merasakan pengalaman luar biasa saat diselamatkan seorang turis dari Israel ketika hampir tenggelam terbawa arus di Maya Beach. Padahal ketika berada di satu perahu yang sama dari Phi Phi Don menuju Phi Phi Leh, saya memasang tampang tidak bersahabat kepada dia dan teman temannya, mengingat itulah pertama kali saya bertemu muka dengan orang Yahudi. Ternyata dia membalas sikap saya itu dengan budi baik. Ah, ternyata Allah menegur saya untuk selalu berprasangka baik kepada setiap orang.

Dalam penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Manila di bulan Ramadhan 2010, saya bertemu dengan tiga orang pastor dari Jakarta yang akan menghadiri acara keagamaan di Filipina. Ketika ditengah – tengah keasyikan kami mengobrol itu mereka tau saya sedang berpuasa, mereka langsung menghentikan santapan mereka lalu meminta maaf berkali kali. Padahal saya bilang, saya sama sekali tidak keberatan mereka makan didepan saya mengingat saat itu memang sudah waktunya untuk makan siang. Di Manila pula, saya berpuasa tanpa tahu petunjuk apapun kapan harus berbuka dan kapan harus sahur. Saya tinggal di hotel tanpa internet dan tidak mudah menemukan warnet di dekat hotel tempat saya menginap. Apalagi sulit sekali menemukan makanan halal disana. Jadilah saya berbuka dengan makanan yang kehalalannya samar samar, sambil berdoa semoga dengan membaca bismillah Allah dapat mengampuni saya.

berbuka-puasa-di-central-mosque-london-UK

Berbuka Puasa di Central Mosque, London

Lain lagi cerita ketika saya merasakan puasa di negeri yg terletak di belahan bumi bagian utara. Terlebih ketika kita harus berpuasa di musim panas, saat dimana waktu siang lebih panjang daripada malam. Saya mengunjungi London di tahun 2014 dan 2015 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan. Disana saya harus berpuasa selama hampir 19 jam! Bayangkan, saya harus sahur jam 2 pagi, sedangkan matahari baru tenggelam pada jam 9 malam dan waktu Isya masuk sekitar jam 10.30 malam. Belum lama berbuka, sudah harus siap siap sahur lagi hehehe. Weleh weleh, jujur saja saya tidak kuat harus berpuasa selama itu setiap hari. So, saya memilih untuk berpuasa secara selang seling, saya tau keterbatasan fisik saya karena tidak terbiasa dengan durasi puasa seperti itu. Selain itu, tantangan berpuasa saat musim panas di London, banyak sekali pemandangan wanita dengan pakaian yang sangat minimalis.  Itu sepertinya tantangan yang paling berat saat berpuasa di musim panas hehehe. Di London, saya juga beruntung diajak om saya untuk mengikuti ifthar di Central Mosque London, berbuka puasa bersama ratusan jamaah dari berbagai negara dengan jamuan makanan yang beragam, dari Kurma, roti Naan dan Pakoras ala Pakistan sampai ke Nasi Briyani. Dan semuanya itu gratis untuk jamaah yang berbuka puasa. Alhamdulillah!

Bulan puasa tahun 2015 lalu, saya juga berkesempatan mengunjungi Turki selama empat hari dalam perjalanan transit dari London menuju Singapura. Ternyata di Turki saya harus berpuasa selama 17 jam, karena saat itu juga bertepatan dengan musim panas. Di Istanbul, saya sengaja ingin merasakan ifthar di Sultan Mehmet Camii (Blue Mosque). Tadinya saya mengira suasana disana akan sama seperti ifthar di mesjid yang berada di negara mayoritas muslim.  Namun ternyata di mesjid bersejarah itu, ifthar disajikan dengan sangat sederhana. Setiap orang hanya diberikan 1 butir kurma, 1 buah Apel dan segelas air mineral. Kemeriahan baru bisa kita dapatkan di halaman mesjid yang penuh dengan orang orang yang berbuka puasa laksana piknik keluarga. Ternyata saat berbuka puasa menjadi saat terbaik orang – orang disana untuk berkumpul bersama keluarga atau teman teman. Ironisnya, kemeriahan itu seakan berkebalikan dengan suasana di siang hari.  Walaupun Turki adalah negara dengan mayoritas Muslim, saya melihat banyak juga penduduk berwajah khas Turki yang terlihat tidak berpuasa, makan minum dijalan dan warung warung makan pun tetap buka seperti biasa. Bebas, tidak ada kain yang menghalangi seperti di Jakarta hehehe.  Bahkan di Izmir, ketika saya berjalan kaki dari hotel tempat saya menginap menuju stasiun kereta api, belasan club malampun tetap buka disiang bolong hehehe. Wanita berpakaian minim tidak malu malu untuk menggoda para pria untuk sekedar mampir untuk minum. Monggo mampir mas! hehehe. 

Bulan puasa di negeri orang, terutama di negeri dimana umat Muslim menjadi minoritas, memang terasa sepi dan sunyi. Tidak ada lantunan azan yang bersahut sahutan, tidak ada program TV khas Ramadhan yang berlomba lomba mengisi slot di saat sahur dan menjelang buka puasa. Semua orang “diharuskan” menghormati orang yang sedang berpuasa. Namun, ada kalanya berpuasa di negeri orang menjadi pengalaman yang jauh lebih berkesan dibandingkan saat berpuasa di negeri sendiri. Saya merasakan puasa menjadi ibadah yang sangat personal antara seorang hamba dengan Penciptanya. Siapa yang tahu jika seseorang itu berpuasa selain dirinya dan Tuhannya?  Sayapun tidak memerlukan penghormatan dari orang yang tidak berpuasa, untuk apa?  Yang saya butuhkan hanyalah keteguhan hati dan keikhlasan dalam menjalankan puasa, supaya saya tidak termasuk kedalam golongan orang yang mengaku berpuasa namun kemudian diam diam melipir untuk berbuka sebelum waktunya, atau diam – diam meneguk segenggam air wudhu. Astaghfirullah.

Selamat berpuasa Ramadhan 1437 H, semoga puasa kita diterima Allah SWT, aamiin.

Sultan Mehmet Camii (Blue Mosque), Istanbul June 2015

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

Sultan Ahmet Camii (Blue Mosque) #istanbul #turkey, June 2015

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

View All

9 Comments

  1. luar biasa yaaa yang bisa puasa sampai 19 jam gitu….
    duhh mudah2an bisa merasakan puasa di negeri orang juga, pengen juga nih sebagai pengalaman 😀

    Reply

    1. Indra Kurniadi June 9, 2016 at 3:44 pm

      iya mba dita..lumayan juga berasa lama puasa segitu lama hehehe..aamiin semoga terwujud mba!

      Reply

  2. Disini puasa +/- 13 jam saja udah pada kelimpungan, lalu apa kabar dengan puasa di Turki 17 jam kala itu? Kerasa laper banget nggak mas? Ternyata ifthar di blue mosque nggak semeriah yang diharapkan ya…

    Reply

    1. Indra Kurniadi June 9, 2016 at 3:45 pm

      hehehe..lapar sih ngga mas fahmi, cuma lemess hahaha..iya ifthar di blue mosque ternyata ga semeriah yg dibayangkan..kalo mau meriah, ifthar di halaman mesjid mas

      Reply

  3. Wah pengalaman menarik & menantang puasa di negeri orang, apalagi di negeri utara *ngebayangin lemesnya puasa 17 jam, olala…

    Btw pengalaman diselamatkan sama orang Israel itu bagai teguran buat kita ya supaya tidak berprasangka buruk pada siapa saja. Saya juga pernah seperti itu waktu trip sama orang HK dan saya lihat ia sepertinya sombong. Eh ternyata setelah duduk sebelahan di pesawat ternyata orangnya baik dan ramah. Perkara ia terlihat sombong sepertinya hanya tembok untuk menutupi sifat pemalunya.
    Dan saya jadi benar2 malu sekarang karena sudah berprasangka.

    Reply

    1. Indra Kurniadi July 3, 2016 at 1:38 pm

      iya mas.. kalo kata Pram, adillah sejak dari pikiran 🙂

      Reply

  4. Pengen banget mersakan Ramadhan di luar negeri, tapi belum pernah kesampaian gitu hehehe, semoga bisa kesampaian tahun2 berikutnya 😀

    Reply

  5. Ngeri ya puasa sampe 19 jam gitu. Tapi ada juga lho negara yang puasanya nggak nyampe 4 jam 2016 kemaren. Oia, mau tanya Kalo di Manila memang susah ya cari makanan halal? Resto Indonesia atau India gitu nggak ada ya?

    Reply

  6. puasa 19 jam setiap hari selama sebulan 🤔, luar biasa perjuangan muslim disana. etapi bagus juga buat yang berencana ngurusin badan hahaa

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *