Postcard from Venice

Saya traveling ke Venice pada bulan Januari 2014 lalu dalam kunjungan saya selama 10 hari di Italia , menyusuri Roma – Florence – Verona – Venice – Milan. Kunjungan yang singkat, hanya semalam saja. Seperti halnya banyak digambarkan dalam berbagai foto dan lukisan, Venice memang indah dan kaya akan sejarah. Venice dimasa lalu adalah republik independen yang kuat dan kaya raya. Pelaut pelaut mereka menguasai jalur perdagangan dari Laut Adriatik sampai Laut Mediterannia, dari Timur Dekat sampai ke Eropa. Kejayaan masa lalu mereka dapat terlihat dari bangunan – bangunan indah yang masih berdiri sampai sekarang.  Dahulu, wilayah mereka bukan hanya gugusan pulau pulau kecil di lepas pantai timur- utara Italia seperti sekarang saja. Tapi juga mencakup berbagai wilayah di pantai Kroasia, Yunani sampai berbagai pulau kecil di Laut Tengah.

Ada banyak keindahan yang bisa dinikmati dari Venice. Sepertinya semua hal berkomplot untuk menampilkan spot terbaiknya, instagram friendly banget lah pokoknya. Menyusuri venice harus dimulai dari Piazza San Marco, pusat dari segala aktivitas di Venice. Disana juga ada San Marco Camponiele, land mark nyaVenice. Selain itu, kita bisa mengagumi keindahan Basilica di San Marco, Rialto Bridge dan Grande Canal. Jika tertarik untuk berbelanja, kita bisa datang ke toko toko di Rialto Market atau di berbagai tempat di seputaran Piazza di San Marco. Ada banyak produk – produk berkualitas, dari mulai souvenir kecil, barang barang antik, batu berharga, produk kulit, kaca dan kristal sampai oleh – oleh khas lokal: Venice Mask. Hati – hati, jangan sampai terkecoh dengan barang buatan Tiongkok yang kebanyakan berkualitas rendah walaupun murah. Dan sepertinya, pedagang asli Venice mulai gusar dengan kehadiran barang – barang asal Tiongkok itu. Seringkali saya masuk ke satu toko, penjaganya akan berusaha meyakinkan saya dan setiap turis yang datang, bahwa barang yang dijajakan di toko mereka adalah produk lokal asli.

Namun, Venice tidak melulu indah, ada banyak hal yang menunjukkan sisi lain dari Venice seperti misalnya udara musim dingin yang menusuk tulang, bau tidak sedap yang muncul dari kanal – kanal, harga harga makanan dan hotel yang mahal, lorong lorong menyesatkan yang bak labirin, dan banjir! Di hari dimana saya berencana meninggalkan Venice untuk menuju Milan, saya hampir terjebak banjir akibat air laut pasang yang memenuhi daratan. Awalnya, saya berencana untuk meninggalkan Venice di sore hari supaya bisa mengesksplorasi kota lebih lama. Namun rencana tinggal rencana, menuruti saran petugas hotel, saya cepat – cepat meninggalkan hotel menuju Stasiun Santa Lucia. Dan benar saja, pagi itu air laut sudah naik jauh kedaratan dengan kedalaman hingga setinggi mata kaki. Terpaksalah, sepatu boot saya yang baru saja saya beli di tanah air harus menjadi korbannya.

Gondola? Ah lupakan saja rencana naik gondola jika harus rela mengeluarkan uang 80 – 100 Euro hanya untuk 40 menit berkeliling menyusuri kanal, belum lagi ekstra 40 Euro untuk tambahan waktu 20 menit. Kecuali tentu saja jika anda ingin terlihat royal dan romantis dimata pasangan hehehe. Saya memilih berkeliling kanal dengan water bus, traghetti, yang hanya bertarif 2 Euro saja. Ada banyak rute yang bisa dilalui dengan traghetti, yang merupakan transportasi publik utama di Venice. Ya iyalah, mana mau penduduk lokal naik gondola hehe. Dan buat saya naik traghetti juga merupakan kesempatan saya untuk bisa melihat dari dekat aktivitas penduduk lokal. Awesome!

Well, semalam di Venice tentu tidaklah cukup, apalagi berkelana seorang diri. Suatu saat saya harus kembali ke Venice di waktu yang tepat bersama dengan orang – orang yang saya cintai.

Grazie Venezia, Arrivederci!

Berikut oleh – oleh dari Venice 🙂

Gembok Cinta

Anjing pun bergaya.

The bell tower of St Marco

Banjir di Venice!

Singa Terbang, lambang St Marco

The Grand Canal

Gondola

Rialto Bridge

Gondola

 

View All

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *