Pokhara, ketika keindahan alam berpadu dengan keramahtamahan

“Hey You! Comeback! Lihat awan hitam itu, badai akan segera datang, kembalilah”

Teriakan pemilik kedai kecil di kaki bukit mengejutkan lamunan saya sore itu. Saya baru saja akan menuruni anak tangga terakhir, setelah mengunjungi Peace Pagoda yang terletak di atas bukit Ananda. Awalnya, saya berencana kembali ke Lake Side dengan menyeberangi Phewa Lake menggunakan perahu. Namun, peringatan pemilik kedai menggagalkan rencana saya, sayapun segera kembali naik ke atas.

Benar saja, tidak berapa lama kemudian badai es datang menerpa Pokhara, dari Lake Side sampai ke lereng bukit. Batu es sebesar dadu berhamburan turun dari atas langit. Ah, betapa beruntungnya saya. Peringatan pemilik kedai itu telah menyelamatkan saya dari badai es sore itu. Entah bagaimana nasib saya jika saya nekat meneruskan perjalanan mengarungi danau Phewa. Saya bersama beberapa traveler lainnya kemudian menumpang untuk berteduh di kedainya. Badai es baru berhenti 3 jam kemudian.

“It is often said that while you first come to Nepal for the mountains, you return here for the people”

Saya segera menemukan kecocokan pada kredo itu. Saya merasakan kehangatan dari setiap orang Nepal yang saya temui sejak dari Kathmandu hingga Pokhara ini. Keramahan yang begitu tulus dan bersahabat, seperti yang sudah saya ceritakan di awal tulisan ini. Percayalah, di Pokhara, keramahan penduduk lokal seperti berkelindan dengan keindahan alam.

Saya mengunjungi Pokhara, kota di kaki pegunungan Annapurna Himalaya itu pada bulan Maret 2015. Pokhara adalah salah satu destinasi wisata utama di Nepal. Untuk menuju Pokhara, saya harus menempuh perjalanan selama 10 jam menggunakan tourist bus dari Kathmandu. Awalnya saya heran mengapa Pokhara yang hanya terpisah sejauh 200 KM dari Kathmandu harus ditempuh selama itu? Baru kemudian, setelah mengarungi sendiri perjalanan itu, saya kemudian tau jawabannya. Jalan yang sempit dan berkelok, ditambah dengan banyak ruas jalan yang rusak terbengkalai, menyebabkan jarak Kathmandu ke Pokhara yang hampir setara dengan jarak dari Jakarta ke Indramayu harus ditempuh selama itu. Tapi jangan khawatir, pemandangan dari jendela bis sangat mempesona! Usahakan untuk selalu memilih duduk di sisi kanan bis.

Selama 3 malam traveling di Pokhara, saya  menginap di daerah Lake Side, yang sesuai namanya terletak di sisi danau Phewa yang indah. Daerah yang selalu ramai dengan turis. Tidak heran, karena berbagai fasilitas pendukung tourism ada disana. Puluhan hotel dengan berbagai macam fasilitas ada disana. Yang terpenting, mintalah kamar hotel dengan jendela yang menghadap pegunungan Himalaya.  Jika beruntung, saat cuaca cerah, kita dapat melihat pegunungan Himalaya dari Pokhara. Bahkan, disaat terbaiknya, kita dapat menikmati pemandangan Himalaya yang berpadu dengan keindahan Danau Phewa. Pemandangan yang karena keindahannya itu banyak diabadikan dalam berbagai postcard maupun poster yang dijual di berbagai toko cinderamata. Jika ingin melihat Himalaya lebih jelas lagi, kita bisa mengunjungi Sarangkot, desa kecil yang dapat ditempuh dalam 30 menit dengan taxy dari Lake Side. Dari situ kita bisa menikmati keindahan matahari pagi yang muncul dari pundak Machapuchare salah satu puncak dari rangkaian pegunungan Annapurna Himalaya.

Di Pokhara, saya banyak bertemu para pendaki yang baru saja menempuh perjalanan untuk melihat Himalaya dari dekat, mereka datang silih berganti. Dan entah kenapa, saya iri sekali kepada mereka. Ah, suatu saat saya harus kembali untuk melihat Himalaya dari dekat, dari Annapurna Base Camp!

Dhanyabad Pokhara 🙂

Somewhere between Kathmandu and Pokhara #Nepal #Latepost

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

The City of Pokhara, view from Sarangkot #Pokhara #Nepal

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

Colorful boats at Phewa Lake #Pokhara #Nepal

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

Annapurna Range of the Great Himalaya in the early morning, view from Sarangkot #Himalaya #Pokhara #Sarangkot #Nepal

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

View All

7 Comments

  1. Saat gempa Nepal terjadi, aku berada di kota Varanasi. Di sana saja udah kerasa banget, sedih saat tahu banyak situs budaya yang hancur karena gempa tersebut.

    Namun, dengan melihat keindahan foto2 di sini, jadi semangat mau ke sana. Aaaak kece banget!

    Reply

    1. indrakurniadi May 28, 2016 at 8:25 pm

      iya mas..saya dua kali ke Nepal, Maret 2015 sesaat sebelum gempa terjadi dan Januari 2016. Sedih banget liat kondisi Nepal pasca gempa. Anyway, saya pengen banget ke Varanasi. Dua kali ke India belum pernah kesampaian, semoga bisa kesana suatu saat nanti. Thanks anyway!

      Reply

  2. Waktu kesini bulan lalu semua serba kabut. AKu nggak tertarik ke peace pagoda. Waktu ke Phokara cuman jalan dan duduk sanatai berdua dengan si kecil. Aku leyeh leyeh sementara dia lemparin batu ke danau.

    hening, tenang suasanya apalgi orang nepal ramah banget, ngingetin aku akan Indonesia

    Reply

    1. indrakurniadi May 30, 2016 at 11:03 am

      iya bener mba..orang nepal itu ramah2 banget..serasa di negeri sendiri

      Reply

  3. Waaaa keren sangat ya. Saya kenal Pokhara gara-gara baca bukunya Mas Daniel Mahendra “Perjalanan ke Atap Dunia”, jadi mupeng pengen kesana. Semoga suatu saat bisa menjejak beneran ke tempat ini 🙂

    Reply

    1. Indra Kurniadi June 3, 2016 at 11:13 am

      Aamiin, semoga terwujud mba elisabeth. terimakasih sudah mampir ke blog saya 🙂

      Reply

  4. Wow, keren banget.. Semoga bisa juga nyusul dolan kesini. Btw, kalo hujan es, bisa dong nyambi buat es kopi disana.. 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *