Menikmati keindahan dari ketinggian

Saya suka sekali menikmati pemandangan dari ketinggian, dari ketinggian satu bangunan, perbukitan atau menikmati keindahan bumi, lautan dan langit saat mengarungi perjalanan dengan pesawat.
Ada sensasi yang sulit digambarkan dengan kata – kata ketika berhasil menapaki anak tangga untuk menuju puncak, lelah saat mendaki terbayar oleh keindahan pemandangan saat berada di puncak. Pemandangan yang sama sekali berbeda jika kita hanya mengamatinya dari kaki bukit, dari bawah gedung.  Berhubung saya bukan anak gunung dan belum punya pengalaman mendaki gunung, saya hanya ingin share pengalaman saya berburu keindahan pemandangan dari atas satu bangunan atau perbukitan.

Dari berbagai pengalaman saya dalam berburu keindahan pemandangan dari ketinggian, ada banyak yang sepertinya gampang untuk dicapai, namun ternyata tidak mudah untuk dilewati. Untuk menikmati keindahan Vatican City dari Cupola di San Pietro misalnya, ada banyak anak tangga yang harus didaki, termasuk anak tangga yang berkelok – kelok dalam ruang yang sempit. Begitu pula ketika mendaki ratusan anak tangga saat mendaki Great Wall, stamina kita akan menentukan sampai di bagian mana perjalanan kita berakhir. Juga pengalaman saya saat mendaki puluhan anak tangga untuk mencapai patung Cristo Rei di Dili atau saat harus  menapaki puluhan anak tangga untuk sampai di View Point untuk dapat menikmati keindahan Phuket dari atas. Semuanya melelahkan namun berakhir dengan menyenangkan.

Well, ada juga jalan mudah untuk menikmati keindahan dari atas. Saat mengunjungi menara tertinggi di dunia, Burj Khalifa di Dubai, saya tidak perlu lelah mendaki anak tangga menuju puncak gedung setinggi 800 m itu, cukup naik lift dan dalam hitungan detik akan membawa kita kesana. Begitu pula saat saya mengunjungi Twin Tower di KL, Glasgow Tower, atau saat saya menikmati keindahan pemandangan dari balik kaca di menara Mesjid Al Akbar Surabaya. Tapi tentu kemudahan dalam mencapai puncak pada bangunan tersebut harus kita tebus dengan beberapa lembar uang.

Cara lain bisa juga dengan menginap di satu hotel dengan keindahan pemandangan di balik jendela kaca atau datang ke satu restaurant, menyeruput secangkir kopi atau teh sambil menikmati pemandangan dari atas. Saya bisa menikmati keindahan Twin Tower di KL saat malam hanya bermodalkan segelas orange Juice dari balik jendela Sky Bar di Traders Hotel KL, saya juga bisa menikmati keindahan Paris from the rooftops hanya bermodalkan sekaleng soft drink seharga 3,3 Euro dari satu resto di sekitar Galery Lafayette. Atau bisa juga dengan menyewa kendaraan, seperti saat saya menyewa mobil untuk bisa menikmati pemandangan Pegunungan Himalaya dari Tiger Hill di Darjeeling.

Proses mendaki sampai kepuncak tadi mengingatkan saya akan halnya halnya kehidupan, bukankah dalam hidup ini, untuk mencapai puncak, kita harus melewati banyak tantangan sejak langkah pertama, sejak  anak tangga pertama? Dan setelah kemudian puncak kehidupan itu berhasil kita capai, lalu kemudian apa? Beranikah kita TERBANG?

 Keindahan Vatican City dari Cupola di San Pietro 🙂

 

Keindahan Glasgow dilihat dari Glasgow Tower

Verona

Pasir Putih Dili, dilihat dari Cristo Rei

KL Twin Tower dari SKy Bar

Great Wall

View All

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *