Jum’atan di Negeri Negeri yang jauh

Dulu, saat awal – awal saya mulai menjelajah dunia, saya seringkali memanfaatkan status sebagai musafir untuk memilih tidak shalat Jum’at dan menggantinya dengan shalat Zuhur. Karena toh dalam ajaran Islam yang saya pahami, hal itu memang diperbolehkan. Namun kemudian saya berpikir bahwa dengan Jum’atan di negara lain saya pasti akan mendapatkan pengalaman baru, selain juga bisa bersilaturahmi dengan saudara – saudara sesama Muslim. Alhamdulillah, dari 20 negara yang pernah saya kunjungi, saya pernah Jum’atan di Kuala Lumpur, Dili – Timor Leste, Bangkok, Xian – Tiongkok, Dubai UAE, Pokhara – Nepal, London, Istanbul, Mumbai – India dan tentu saja di Mekkah. 

Saat Jum’atan di negara – negara dengan penduduk mayoritas Muslim, saya mendapatkan pengalaman berbeda dibanding saat Jum’atan di mesjid mesjid di Nusantara. Barangkali perbedaan mazhab yang dianut yang menjadi dasar perbedaan itu. Seperti saat saya Jum’atan di Mesjid Biru Istanbul, ketika berwudhu saya melihat hampir semua orang disana berwudhu tanpa melepas sepatunya, memang saat itu musim dingin dan suhu hampir menyentuh 0 derajat celcius. Berwudhu dengan air sedingin es itu satu perjuangan sendiri loh hehehe. Prosesi Jum’atan dimulai dengan ceramah dalam bahasa Turki dari pemuka agama selama kurang lebih 30 menit. Baru kemudian setelah masuk waktu Jum’at, khatib memasuki mimbar dan berceramah dalam bahasa Arab dengan waktu yang amat singkat sebelum kemudian Khatib mengajak jamaah untuk menunaikan Shalat Jum’at.

Jum'atan di Mesjid Jawa, Bangkok

Jum’atan di Mesjid Jawa, Bangkok

Pengalaman yang berkesan juga saya dapatkan saat Jum’atan di negara dengan penduduk mayoritas non muslim karena tidak mudah menemukan mesjid disana. Di Bangkok, saya harus blusukan ke gang gang sempit di daerah Sathorn supaya bisa Jum’atan di Mesjid Jawa yang ternyata didirikan oleh keturunan orang – orang Jawa yg dikirim Jepang kesana utk menjadi romusha saat perang Dunia dulu. Mereka dikirim ke Thailand untuk membangun jalur kereta antara Burma dan Thailand sampai ke Semenanjung Malaya.  Sekarang mereka sudah sepenuhnya mengadopsi budaya Thailand, bicara dalam bahasa Thai dan menulispun memakai aksara Thai. Namun, mereka tetap memegang teguh agama mereka.

pengalaman-jum'atan-di-mesjid-agung-xian

Berfoto dengan pengurus Mesjid Agung Xi’an

Di Xi’an, ibukota kuno kekaisaran Tiongkok, saya menunaikan shalat Jum’at di Mesjid Agung Xi’an yang terletak ditengah tengah Muslim Quarter, daerah pemukiman suku Hui. Mesjid bersejarah yang sudah berusia lebih dari 1300 tahun. Prosesi pelaksanaan ibadah shalat Jum’at disana dimulai dengan ceramah yang disampaikan oleh seorang pemuka agama dalam bahasa setempat selama kurang lebih 30 menit.  Sedangkan khutbah Jum’at disampaikan oleh Khatib dalam bahasa Arab yang disenandungkan dalam langgam Tiongkok. (Kisah lengkap pengalaman shalat Jum’at di Mesjid Agung Xi’an dapat dilihat disini).

Jum'atan di Mesjid Jami Bandra, Mumbai - India

Jum’atan di Mesjid Jami Bandra, Mumbai – India

Di Mumbai, saya melaksanakan Shalat Jum’at di Mesjid Jami Badra dekat Stasiun kereta Badra. Tidak sulit menemukan mesjid di Mumbai, kota dimana penduduk muslim mencapai hampir 20% dari jumlah penduduk kota. Makanan halalpun mudah didapat karena banyak kedai kedai makanan yang memajang logo halal di depan toko mereka. Di Mesjid Jami Badra, khutbah disampaikan dalam bahasa Arab, namun sebelum khutbah ada ceramah yang disampaikan dalam bahasa setempat dan dilantunkan dengan langgam khas Hindustan. Ketika beberapa waktu lalu marak berita tentang pembacaan Al Qur’an yang dilantunkan dalam langgam Jawa yang memicu pro dan kontra umat Muslim di negara kita, ternyata di Mumbai dan Xi’an saya mendengar sendiri pembacaan ayat Qur’an yang di lantunkan dalam langgam khas negeri mereka. Di Mumbai, hampir seluruh jamaah memakai tutup kepala yang jika tidak berupa peci, mereka menutup kepalanya dengan kain putih.

Jum'atan di Mesjid Kundhar, Pokhara Nepal

Jum’atan di Mesjid Kundhar, Pokhara Nepal

Di Pokhara Nepal, saya Jum’atan di Mesjid Kundhar, di Miya Patan Street, sekitar 15 menit dengan kendaraan dari Lake Side. Saya bisa sampai kesana berkat kebaikan rombongan turis asal Bangladesh yang berkenan mengajak saya untuk ikut mobil mereka. Yang menarik, azan di mesjid tersebut dilakukan muadzin ditengah – tengah jamaah, bukan di depan mimbar seperti yang biasa kita temukan di Indonesia. Kemudian banyak jamaah yang membawa buah – buahan, dan berbagai makanan lainnya untuk dikumpulkan didepan mesjid yang kemudian dibagikan kepada para jamaah setelah bubaran shalat Jum’at. Ternyata mesjid tersebut berlokasi di pemukiman orang muslim yg sudah ratusan tahun menetap di Pokhara.  

Di Dili, saya Jum’atan di Mesjid An Nur yg terletak di tengah tengah Kampung Alor, perkampungan Muslim yang mayoritas warganya berasal dari Indonesia. Lokasi perkampungan itu terletak di pusat kota Dili. Disana, khutbah Jum’at disampaikan dalam bahasa Indonesia. Tidak heran, karena hampir mayoritas jamaah adalah orang Indonesia. Selain penduduk yang sudah lama menetap di Dili, juga para pegawai perusahaan asal Indonesia yang sedang bertugas disana. Selesai Jumatan, mayoritas jamaah langsung menyerbu berbagai warung nasi dan warung bakso yang ada diarea mesjid. Makan makanan khas Indonesia namun bayarnya pake dollar hehe.

So, buat traveler yang kebetulan sedang dalam perjalanan kemanapun di hari Jum’at, ada baiknya kita berhenti sejenak dari pengembaraan dan mencari mesjid terdekat. Insya Allah kita akan mendapatkan hikmah yg besar dari silaturahim dengan sesama Muslim, baik penduduk lokal maupun sesama musafir dari berbagai penjuru dunia.

O Allah, Forgive Me All My Sins
Great and Small, The First and The Last
Those That are Apparent and
Those That are Hidden

 Jummah Mubarak!

Jumatan dulu..

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

2 hari lalu, hujan turun dimekkah..katanya hujan disini cuma turun setahun 4 kali. Insya Akah berkah..

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

Friday Prayer @ Blue Mosque #istanbul #turkiye #mosque #prayer #picoftheday #photooftheday #galaxynote #ig_nesia #instagram

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

Blue Mosque #architecture #mosque #istanbul #turkiye #photooftheday #picoftheday #galaxynote #ig_nesia #instagram

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

View All

4 Comments

  1. Seru Mas, sangat menginspirasi

    Reply

    1. Indra Kurniadi June 3, 2016 at 2:17 pm

      Thank you mas ali 🙂

      Reply

  2. Kalau jumatan kayaknya belum pernah juga Mas, hehehe soalnya mushafir kan bisa ngga jumatan kan? khan? hehehe

    Reply

    1. iya mas..awalnya juga saya lbh memilih fasilitas musafir yg boleh tidak jumatan tp kemudian tak pikir2..dgn jumatan kita juga bisa silaturahmi dgn saudara sesama muslim di negeri2 yg kita kunjungi

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *