Jumatan di Mesjid Agung Xi’an, Tiongkok

Saya berkesempatan untuk mengunjungi Tiongkok untuk kali kedua pada bulan November 2014 lalu. Pada kunjungan saya yg pertama pada tahun 2012, saya mengunjungi Hangzhou, Shanghai dan Beijing. Sedangkan pada kunjungan kali ini, saya mengunjungi Guangzhou dan Xi’an. Mengunjungi Guangzhou dalam rangka bisnis sedangkan mengunjungi Xi’an untuk menyusuri sejarah Tiongkok kuno langsung dari jantungnya. Xi’an adalah ibukota kekaisaran Tiongkok kuno setelah kaisar Tiongkok pertama, Qin Shi Huang, berhasil menaklukkan enam kerajaan untuk membentuk kekaisaran Tiongkok bersatu. Xi’an kemudian menjadi ibukota kekaisaran selama lebih dari 1000 tahun dari tahun 221 SM, hingga tahun 904 Masehi. Xi’an menjadi ibukota bagi 10 dinasti kekaisaran Tiongkok kuno hingga keruntuhan dinasti Tang. Dari Xi’an pulalah, Jalur Sutera yang termasyur itu bermula. Dari pusat kota, para pedagang akan menyusuri jalan melewati gurun Gobi, kota kota kuno di Asia Tengah, hingga terus mencapai titik finish terjauhnya, Konstantinopel dan Baghdad. Tidak jauh dari pusat kota Xi’an sekarang, kita bisa mengunjungi Terracota Warriors yang merupakan salah satu penemuan terbesar arkeologi yang pernah ada, makam kaisar pertama Tiongkok beserta ribuan patung tanah liat para pengawalnya. Belum ke Xi’an jika tidak mengunjungi situs bersejarah itu.

Terracota Warriors! Xi’an Nov 2014 #Latepost #Backpacker #Traveling #Xian #China

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

 

Kali ini, saya ingin sharing pengalaman saya saat menunaikan shalat jumat di Great Mosque of Xi’an, Mesjid Agung Xi’an, salah satu mesjid tertua di Tiongkok yang menurut catatan sejarah dibangun pada tahun 742 M, hanya 1 abad berselang dari wafatnya baginda Nabi Muhammad. Mesjid Agung Xi’an terletak di tengah tengah Muslim Quarter, salah satu destinasi wisata utama di kota Xi’an. Kawasan yang selalu ramai oleh para turis. Disitulah pusat pemukiman orang Hui, orang Tiongkok asli yang sudah memeluk Islam sejak jaman para sahabat Nabi. Orang Hui secara etnis dan bahasa memiliki kesamaan dengan suku Han, suku mayoritas di Tiongkok. Yang membedakan mereka hanyalah orang Hui memeluk agama Islam. Di Muslim Quarter, kita bisa dengan mudah menemukan berbagai makanan halal, sate kambing khas Asia Tengah, kebab, berbagai macam mie, hingga roujiamo aka chinese burger. Penjualnya mayoritas berasal dari suku Hui, mereka tidak ragu menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim dengan memakai busana muslim. Para lelakinya memakai kopiah putih sedangkan para wanitanya berhijab.

 Sejak awal saya bersama rekan saya mengunjungi Xi’an, kami sudah berniat untuk menunaikan shalat jum’at disana. Sehingga begitu hari Jum’at tiba, kami segera bergegas ke mesjid jauh sebelum waktu shalat tiba. Saat memasuki gerbang mesjid, kami mengucapkan salam kepada penjaga pintu. Sehingga kami tidak harus membayar tiket masuk mesjid sebesar 25 yuan. Ada rasa haru merasuki dada, ketika saya benar benar menginjakkan kaki di mesjid bersejarah berusia hampir mencapai 1300 tahun, hampir seusia dengan agama Islam itu sendiri. Mesjid yang kokoh dilengkapi dengan taman yang indah. Saat itu, bulan November sudah memasuki awal musim dingin, awalnya kami sudah khawatir jika harus berwudhu dengan air sedingin es, namun Alhamdulillah ternyata kita bisa berwudhu dengan air panas.
 Prosesi jum’atan dimulai ketika banyak jemaah yang umumnya berusia lanjut, memasuki ruang dalam mesjid melewati mimbar. Sepertinya tidak sembarang orang bisa memasuki ruangan itu. Karena jamaah yang lain tetap duduk di ruangan utama mesjid. Di ruang itu, ayat ayat kitab suci dilantunkan. Suara yang didengungkan menghasilkan irama yang sangat indah. Prosesi selanjutnya adalah ceramah yang disampaikan dalam bahasa Tiongkok yang disampaikan dalam waktu kurang lebih 30 menit. Ketika adzan dikumandangkan, khatib segera naik mimbar kuno yang berbeda dari mimbar tempat ustadz sebelumnya berceramah. Khatibnya masih sangat muda, memakai gamis lengkap dengan surbannya sambil memegang tongkat pusaka. Dari perawakannya saya menebak beliau adalah orang Hui asli. Khatib berkhutbah dalam bahasa Arab yang dilantunkan dalam langgam khas Tiongkok. Indah dan merdu sekali.  Khutbah seperti ini tidak akan bisa kita temukan selain di negeri Tiongkok. Khutbah jum’at itu berjalan dengan amat singkat hingga kemudian Imam mesjid segera mempimpin jamaah untuk melaksanakan shalat Jum’at. Begitu shalat selesai, ribuan jamaah kembali bergegas keluar mesjid untuk melakukan aktivitas lainnya.
Sungguh, shalat jum’at di Mesjid Agung Xi’an adalah salah satu shalat jum’at terindah dalam hidup saya.
Xie Xie,

回头见

Bersama pengurus mesjid Agung Xi'an

Bersama pengurus mesjid Agung Xi’an

 

Ceramah di mesjid agung Xian, China

Ceramah di mesjid agung Xian, China

 

wanita suku Hui, di Muslim Quarters Xi'an

wanita suku Hui, di Muslim Quarters Xi’an

View All

5 Comments

  1. Subhanalahh. Ini salah satu yang aku suka waktu travelling ke Luar negeri. Cari Masjid, ketemu saudara muslim sekalian cari makanan halal.

    Reply

    1. indrakurniadi May 30, 2016 at 11:00 am

      Iya bener banget mba..itu juga aktifitas yg saya suka saat traveling 🙂

      Reply

  2. […] Jum’at disampaikan oleh Khatib dalam bahasa Arab yang disenandungkan dalam langgam Tiongkok. (Kisah lengkap pengalaman shalat Jum’at di Mesjid Agung Xi’an dapat dilihat disini). Di Mumbai, ceramah sebelum khotbah Jum’at disampaikan dalam bahasa setempat dengan langgam […]

    Reply

  3. Subhanallah, ternyata masih ada umat muslim disini, dan barangkali ada salah satu keturunan sahabat nabi disini. Semoga bisa suatu saat kesini. Kira2 berapa jauh ya dari terracotta warriors ke masjid ?

    Reply

    1. Mesjid Xian ada di Muslim Quarter, di pusat kota Xian, sedangkan terracota warriors jauh di diluar kota kira2 1,5 jam naik bis..

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *