It’s not about the Journey or Destination, but its about the People we met along the way!

Saat awal dulu mulai gemar berpetualang, tujuan saya traveling hanyalah untuk melihat tempat tempat yang indah. Bangunan yang termasyur sejak dahulu kala atau pemandangan alam yang keindahannya bak lukisan sang Pencipta. Sejak 8 tahun lalu mulai berkelana menjelajah dunia, saya sudah melihat berbagai bangunan dan pemandangan alam yang indah. Saya sudah pernah melihat Big Ben di London, Menara Eiffel di Paris, Tembok Besar Tiongkok dan Istana Terlarang di Beijing, Hagia Sophia dan Mesjid Biru di Istanbul, Burj Khalifa di Dubai dan tentu Kabah di Mekkah al Mukaromah. Saya juga pernah menjejakkan kaki di pantai indah di Thailand Selatan dan Timor Leste, menghirup udara segar pegunungan Himalaya di India dan Nepal, dan menikmati keindahan danau Loch Lomond di Skotlandia. Saya pernah meraba dinding bangunan kuno di Ephesus Turki, melihat langsung Terracota Warriors di Xi’an serta melihat Colloseum di Roma. Dan berbagai keindahan lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.

Namun, setelah sekian lama berkelana dan mencoba meresapi setiap makna perjalanan yang telah saya lalui, apakah itu yang selama ini saya cari? Well yes saya menikmati keindahan semuanya, namun kemudian saya menyadari bahwa hakikat dan makna perjalanan ternyata bukanlah tentang itu semua. Pengalaman kita dalam melihat berbagai bangunan dan pemandangan alam yang indah itu ternyata hanya sampai dimata lalu terekam di memory kita. Tidak akan pernah turun sampai ke hati. Menurut saya, pengalaman kita dalam berinteraksi dengan sesama manusialah yang akan selalu membekas dihati kita.

Waktu traveling ke Phuket, saya pernah ditolong seorang turis dari Israel saat saya hampir tenggelam terbawa arus di Phi Phi Islands. Saat traveling di Paris, saya terkesan dengan persahabatan saya dengan empat traveler dari Australia, USA, Jepang dan Jerman. Selama empat malam disana, kami selalu makan malam bersama yamg kami masak sendiri di dapur hostel tempat kami menginap. Saya juga terkesan dengan keramahan orang Timor Leste yang bersama saya menempuh perjalanan darat selama 6 jam dari Dili di Timor Leste sampai ke Batu Gade dekat pintu perbatasan dengan Indonesia. Mereka menyapa saya serta menawari saya makan dan minum yang mereka bawa.

Saya juga teringat ketika kebingungan saat hendak bepergian dari Hangzhou ke Shanghai naik kereta. Kami ditolong oleh seorang warga lokal yang membantu kami membeli tiket sampai mengantarkan kami ke pintu keberangkatan di stasiun. Percayalah, bepergian dengan kereta di Tiongkok sangat menantang karena hampir semua informasi ditulis dalam huruf Mandarin ditambah lagi dengan sedikitnya orang yang bisa berbahasa Inggris disana. Keramahan orang orang Nepal juga selalu membekas di hati. Waktu di Pokhara, saya diselamatkan dari hujan es dan badai saat berada di kaki bukit dekat Phewa Lake. Saya bersama beberapa traveler lainnya harus berteduh di satu warung makanan kecil orang Nepal sambil menunggu badai berhenti.

Waktu saya di Mekkah, saya terkesan dengan perjumpaan saya dengan seseorang yang memberikan nasihat berharga buat saya. Namun di Mekkah jugalah, saya harus berdebat dengan pemangkas rambut yang dengan semena mena menaikkan harga yang telah disepakati di awal. Saya lalu mengerti, berada di kota suci tidak serta merta membuat semua orang disana menjadi seperti orang suci. Tuhan seperti memaksa saya untuk menarik sebuah makna dari ketidakadilan yang terjadi di sebuah kios potong rambut yang hanya sepelemparan batu dari rumahNya.

Buat saya, cerita perjalanan yang seperti itulah yang kemudian akan memperkaya jiwa kita untuk menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Cerita perjalanan yang akan menjadi buah tangan terbaik dan bisa kita ceritakan kepada anak cucu kita. Buah tangan yang tentunya jauh lebih baik dari magnet kulkas, gantungan kunci atau kaos bertuliskan Hard Ro*ck Cafe. Cerita yang mampu menginspirasi anak anak kita untuk berpetualang dan berkelana ke negeri negeri yang jauh dan menjadi pengembara yang bisa melebur dengan alam, penduduk lokal dan sesama traveler lainnya disetiap tempat yang disinggahi.

Traveling – it leaves you speechless, then turns you into a storyteller”- Ibn Battuta

Ditulis di atas bus Chitwan menuju Khatmandu, 27 Januari 2016

View All

3 Comments

  1. Suatu perjalanan selalu ada warna dan makna. Saya teringat ketika lagi bener2 tongpes disuatu kota, mau pergi ke tempat lain Alhamdulillah dapat tebengan gratis. Mulanya rada serem juga, karena penumpang cowok semua. Saya sendiri cewek pake jilbab, ternyata mereka baik baik dan ramah. Respect sama saya. Semua tergantung niat dan prasangka juga. Tapi, ini hanya pelajaran saja, karena mungkin kebetulan saya dapat orang baik. Kalo cewek sih, sebaiknya hati hati

    Reply

  2. Suatu perjalanan selalu ada warna dan makna. Saya teringat ketika lagi bener2 tongpes disuatu kota, mau pergi ke tempat lain Alhamdulillah dapat tebengan gratis. Mulanya rada serem juga, karena penumpang cowok semua. Saya sendiri cewek pake jilbab, ternyata mereka baik baik dan ramah. Respect sama saya. Semua tergantung niat dan prasangka juga. Tapi, ini hanya pelajaran saja, karena mungkin kebetulan saya ketemu orang baik. Kalo cewek sih, sebaiknya hati hati

    Reply

    1. bener banget..tetap harus berhati2 di setiap perjalana..

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *