Ephesus, dari Perpustakaan Dunia Kuno, Tujuh Keajaiban Dunia sampai rumah terakhir Bunda Maria

Saya mengunjungi Turki untuk kedua kalinya pada bulan Juni 2015 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan. Jadi ceritanya saya ada business trip ke London dan setelah googling sana sini, saya mendapatkan penawaran tiket termurah seharga 690 USD dari Turkish Airlines dengan penerbangan Singapore – Istanbul – London – Istanbul – Singapore. Well, kemudian saya pikir kenapa saya tidak stop over saja di Istanbul dalam perjalanan pulang dari London ke Singapore. Turki gitu loh! Walaupun saya sudah pernah mengunjungi Istanbul pada Januari 2013, sepertinya saya akan rugi sekali jika tidak memanfaatkan kesempatan itu.

Kunjungan pertama saya ke Turki pada 2013 lalu, saya sudah mengunjungi Istanbul dan tinggal selama 5 hari disana. Dalam kunjungan saya kedua ke Turki ini, saya merancang Itinerary untuk mengksplore kota kota lainnya, seperti Izmir – Ephesus, Cappadoccia dan Sanli Urfa, kota kelahiran Nabi Ibrahim, bapak agama Samawi. Namun karena saya harus kembali pulang ke Jakarta, dengan berat hati kunjungan ke Cappadoccia dan Sanliurfa harus saya batalkan, walaupun saya sudah memesan tiket pesawat kekota tersebut. Hanya kunjungan ke Izmir saja yang bisa saya wujudkan. Okelah, semoga suatu saat nanti saya bisa menjelajah pelosok Turki, untuk menyusuri kebudayaan dan peninggalan sejarahnya yang luar biasa.

Penerbangan dari London ke Istanbul dengan Turkish Airline di tempuh dalam durasi 4 jam saja, pesawat berangkat jam 10.30 malam dari London Heathrow dan tiba di Bandara Attaturk tepat sebelum subuh pada pukul 4.20 pagi. Begitu tiba di kedatangan Internasional, saya kemudian bergegas untuk menuju terminal keberangkatan domestik. Lumayan jauh dan lumayan ngos ngosan karena saya harus berjalan cepat supaya tidak terlambat, karena flight selanjutnya ke Izmir dengan Onur Air akan take off pada jam 07.05 pagi. Penerbangan dari Istanbul ke Izmir dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam saja. Begitu mendarat di Bandara Adnan Menderes Izmir, saya segera mencari transportasi untuk menuju pusat kota. Pilihan menggunakan public transport ada dua, yaitu dengan bis atau dengan Izmir Metro. Dan saya memilih menggunakan havas bus dengan tiket seharga 16 TL.

Izmir, menawarkan pemandangan yang jauh berbeda dengan Istanbul. Pusat kota Izmir, tidak sehiruk pikuk Istanbul. Saya melihat penduduk disini seperti layaknya orang Eropa daratan. Mungkin karena sejarah masa lalu yang panjang, dimana Izmir atau dahulu disebut dengan nama Symirna adalah bagian dari sejarah panjang peradaban Yunani sebelum kemudian menjadi wilayah Kesultanan Ottoman pada abad ke 15. Letaknya yang berbatasan langsung dengan Laut Aegean, membuat pertukaran budaya antar bangsa sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Jadilah pencampuran budaya tadi menghasilkan orang orang dengan fisik yang enak untuk dipandang, wanita yang cantik kebule2an dan banyak yang berambut pirang. Sedangkan pria berparas lumayan (maaf saya pantang bilang ganteng ke pria lain hehe) dengan body yang solid. Kayanya kalo mereka ke Indonesia, pasti laku jadi bintang sinetron hehe. Walaupun kedatangan saya bertepatan dengan Bulan Ramadhan, di Izmir nuansa Ramadhan seperti tidak terlihat, padahal Turki adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim. Saya melihat banyak orang makan minum dimana – mana. Dan yang paling mengejutkan adalah saat saya menyusuri jalan dari hotel tempat saya menginap menuju stasiun kereta, klub klub malam tetap buka di siang bolong. Orang – orang bisa melihat para wanita dengan pakaian minim tetap menunggu tamu untuk datang berkunjung. Oh, kalo hal ini terjadi di Jakarta, sudah pasti di gerebek oleh Satpol PP hehe. Sebenarnya banyak yang bisa dilihat di Izmir, bangunan peninggalan sejarah dan keindahan pantai disana. Namun, karena tujuan utama saya ke Izmir adalah untuk mengunjungi Ephesus, begitu saya sampai hotel dan beristirahat sebentar, saya langsung melanjutkan perjalanan ke Ephesus. Perjalanan dari Izmir ke Ephesus dapat menggunakan kereta api jurusan Selcuk, yang bisa ditempuh hanya satu jam perjalanan dari Izmir dengan harga tiket 10 TL oneway. Kemudian dari stasiun Selcuk, saya segera menuju stasiun bis yang akan membawa saya sampai ke Ephesus dengan ongkos 2,5 TL saja.

Ephesus adalah kota kuno yang pada awal Masehi merupakan kota terbesar kedua di dunia setelah Roma dengan penduduk sebanyak 250 ribu jiwa. Ephesus penuh dengan situs bersejarah yang sangat berharga bagi dunia arkelologi. Bagi pecinta sejarah, kita seperti menemukan playground yang bisa membuat kita betah berjam jam menyusuri setiap situs yang ada, seperti layaknya memvisualisasi setiap informasi yang kita terima dari buku buku sejarah. Di Ephesus, kita bisa melihat bahwa kehidupan masa lalu sejak awal sebelum masehi sudah begitu maju. Bayangkan, pada 2000 tahun yang lalu, mereka sudah mempunya kota yang begitu tertata. Mereka memiliki theater, tempat pemandian umum, toilet umum, jalanan yang  terbuat dari marmer yang indah, berbagai kuil pemujaan, sampai ke tempat prostitusi yang mungkin merupakan salah satu tempat prostitusi tertua didunia hehehe. Pada masanya, bahkan mereka mempunyai perpustakaan terbesar kedua di dunia kuno, Library of Celsus, dengan koleksi mencapai 12 ribu scroll papyrus. Kemegahan dan kekayaan koleksi perpustakaan itu hanya kalah dari perpustakaan di Alexandria, Mesir. Oia, salah satu dari tujuh keajaiban dunia, Temple of Artemis, juga berada di Ephesus (sekitar 4 km dari lokasi situs kota Ephesus), namun sayangnya hancur tak berbekas sejak tahun 401 M. Keindahan Temple of Artemis digambarkan dalam puisi Antipater of Sidon sbb:

“I have set eyes on the wall of lofty Babylon on which is a road for chariots, and the statue of Zeus by the Alpheus, and the hanging gardens, and the colossus of the Sun, and the huge labour of the high pyramids, and the vast tomb of Mausolus; but when I saw the house of Artemis that mounted to the clouds, those other marvels lost their brilliancy, and I said, “Lo, apart from Olympus, the Sun never looked on aught so grand”

Ephesus juga adalah salah satu kota penting pada masa masa awal perkembangan agama Kristiani. Bahkan, Bunda Maria dipercaya pernah tinggal di Ephesus pada saat saat terakhir hidupnya. Legenda menyebutkan, Yesus meminta salah seorang pengikutnya, Yohanes, untuk membawa Bunda Maria ke Ephesus dari Yerusalem. Sayangnya, karena waktu yang terbatas, saya tidak sempat mengunjungi rumah terakhir Bunda Maria yang hanya berjarak 7 km dari Selcuk itu.

Dari Ephesus, saya kemudian memutuskan kembali ke stasiun Selcuk untuk mengejar kereta sore ke Izmir. Saya kemudian memutuskan untuk pergi ke Istanbul keesokan harinya dengan penerbangan paling pagi, skip rencana awal untuk pergi ke Istanbul dengan bis karena durasi perjalanan yang mencapai 7 jam. Sayang sekali memang, saya tidak bisa tinggal lebih lama di Izmir. Namun, semoga itu menjadi alasan supaya saya bisa kembali lagi berkunjung ke sini.

Teşekkür ederim Izmir, Selcuk, Ephesus. See you again Istanbul!

Ephesus! #turkey #Traveling #Backpacker #History

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

City of Izmir from 10 thousands feet! #izmir #turkey #Traveling #Backpacker

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

View All

7 Comments

  1. thanks bro tulisannya mantap…
    bikin iri nih jalan2nya hehhe…

    Reply

    1. thans atas kunjungan dan apresiasinya bro 🙂

      Reply

  2. Pernah baca soal Ephesus yang bersejarah di suatu liputan.
    Keren, mas travelingnya 🙂

    Reply

    1. Indra Kurniadi June 2, 2016 at 12:51 pm

      terimakasih sudah mampir ke blog saya mas sukma dede

      Reply

  3. kalau naik bus ribet gk kak?

    Reply

  4. Been there broo .. mantapp , jadi kebayang lagi . Tempat yg bagus ..

    Reply

    1. mantap ya bro hehehe

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *