Dili, tentang keindahan pantai sampai kisah dibalik kolonialisme

Karena urusan pekerjaan, saya sudah mengunjungi Dili – Timor Leste dalam empat kali kesempatan pada kurun waktu 2013 sampai 2015. Saya selalu menikmati setiap kunjungan saya ke negeri itu. Pada kunjungan saya yang pertama ke Dili, ibu kota Timor Leste, saya mempunyai sedikit kekhawatiran akan bagaimana sambutan penduduk disana ketika bertemu dengan orang Indonesia? Bayangan akan berbagai kejadian berdarah selama masa integrasi (orang kita akan menyebutnya seperti itu) atau masa penjajahan (orang Timor Leste menyebutnya seperti itu) seperti menari menari di pikiran saya. Apalagi berbagai kejadian itu, belumlah terlalu lama berlalu. Namun ternyata kekhawatiran saya itu salah besar. Saya menerima sambutan yang amat sangat ramah dari orang orang disana. Keramahan yang saya terima sejak dari petugas imigrasi di bandara Presidente Nicolau Lobato Timor Leste, supir taksi, petugas hotel, orang orang dijalan dan tentu keramahtamahan dari klien kami di sana.

Timor Leste, salah satu negeri termuda di dunia, adalah negeri yang juga masuk kedalam  daftar negara – negara termiskin di dunia. Gambaran itu saya rasakan ketika saya melihat Dili, ibu kota negara yang juga adalah kota terbesar di Timor Leste. Dili sangatlah kecil, barangkali tingkat keramaian disana sebanding dengan suasana yang ada di kota kecil setingkat kecamatan di pulau Jawa. Pusat perbelanjaan terbesar disana, Timor Plaza, mungkin hanya sekelas toserba yang hanya beroperasi di pinggiran kota Jakarta.

Ironisnya, harga harga disana sangatlah mahal jika dibandingkan dengan harga Jakarta sekalipun. Barangkali pemakaian Dollar Amerika sebagai mata uang negara menjadi salah satu pemicunya. Harga dua hotel terbaik di Dili, Timor Plaza maupun Hotel Timor, bisa dua sampai tiga kali lipat dari harga hotel setara di Jakarta.  Biaya transportasi disana juga mahal akibat harga BBM yang tinggi. Di Dili, transportasi umum yang banyak digunakan adalah taksi, dan harga yang dikenakan tidaklah murah.

Menjelajahi tempat wisata di Dili Timor Leste, bisa dimulai dengan menyusuri pantai pantai di sepanjang Avenida Portugal lanjut ke Avenida Salazar sampai ke Largo de Lecidere. Salah satu pantai terkenal disana adalah pantai kelapa. Duduk di pinggir pantai sambil menyeruput es kelapa muda ditengah hari yang terik atau menikmati jagung bakar atau ikan bakar sambil menunggu matahari terbenam adalah aktivitas terbaik disana.  Namun, belum lengkap mengunjungi Dili jika belum mengunjungi Cristo Rei di puncak bukit Fatucama. Dahulu, patung ini dibangun sebagai hadiah dari Jakarta untuk rakyat Timor Timur. Siapkan energi ekstra jika ingin mencapai puncak, karena kita harus menaiki beratus ratus anak tangga sampai keatas. Namun pemandangan dari atas sana sangat menakjubkan, terutama karena kita bisa melihat keindahan pantai pasir putih yang tidak jauh dari lokasi patung berada.

Jika ingin membeli oleh – oleh, kita bisa membeli di Tais Market, pasar tradisional yang dibangun oleh PBB . Berbagai cenderamata khas Timor Leste bisa kita dapatkan disana, terutama Tais kain tradisional Timor Leste yang mirip dengan kain tenun yang bisa kita dapatkan di berbagai wilayah di Nusa Tenggara. Jika sempat kesana, belilah satu dua barang disana, jangan terlalu ngotot untuk menawar. Anggaplah sebagai kontribusi kita untuk membantu ekonomi orang Timor Leste.

Aktivitas lain adalah dengan mengunjungi berbagai gedung bersejarah peninggalan kolonial, gedung parlemen, gereja, atau mengunjungi Santa Cruz Memorial. Monumen yang mengabadikan peristiwa Santa Cruz 12 November 1991, peristiwa yang menjadi titik balik perjuangan rakyat Timor Leste. Mempelajari sejarah Timor Leste tidaklah lengkap jika tidak mengunjungi Museum Reconquista (Archives and Museum of East Timorese Resistance) di Rua de Cidade de Lisboa, tidak jauh dari Hotel Timor, Dili. Ah, mengunjungi museum itu meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya, karena saat itu saya bisa merasakan nasionalisme saya sebagai bangsa Indonesia seperti beradu dengan simpati saya pada nasib bangsa Timor Leste yang terjajah. Benarkah pasukan kita bertindak begitu kejam selama masa pendudukan Timor Leste? Melihat berbagai diorama, bukti sejarah, foto bahkan video yang ditampilkan, rasanya sulit untuk tidak mempercayai hal itu. Ironis rasanya, apalagi ketika waktu sekolah dulu, pembukaan UUD 45 selalu dibacakan berulang – ulang saat upacara bendera,  bahwa bangsa kita adalah bangsa yang anti terhadap penjajahan dimuka bumi.

Dalam satu perjamuan makan malam yang diselenggarakan oleh klien kami disana, saya mendengarkan berbagai kisah dari rekan – rekan saya itu yang hampir semua dari mereka mempunyai anggota keluarga yang menjadi korban peperangan. Ada salah satu rekan yang melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana orangtuanya meregang nyawa akibat terjangan peluru tentara kita. Namun yang paling mengharukan buat saya adalah ketika mereka bilang seperti ini, semua itu adalah masa lalu, tiada dendam yang tersisa. Buat kami sekarang, Indonesia adalah sahabat kami. Diakhir acara, kami saling berpelukan.

Obrigadu, Timor Leste! Atelogu 🙂

Dili #TimorLeste #Traveling #latergram #Latepost #eastimor

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

Somewhere in Av. Dos Direitos Humanos #Dili #TimorLeste #building #architecture #travelgram

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

Football is a universal language! #PantaiKelapa #Dili #TimorLeste #travelgram

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

Christ the King, landmarknya Dili. Belum ke Dili klo belum kesini!! The view from up there is soo breathtaking!!

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

Pantai pasir putih, Dili

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

Jumatan dulu..

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

Taxy in Dili..

A photo posted by Indra Kurniadi (@indrakurniadi) on

View All

One Comment

  1. What about the language? Can you use Bahasa Indonesia there? If being compared to Yogyakarta, which one is better? Vacation to Dili or Yogyakarta? Thx.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *