DHARAVI

Pada kunjungan kami ke Mumbai di awal Januari 2016 yang lalu, saya dan rekan saya ikut tur bersama Reality tour and travel untuk mengunjungi Dharavi, the largest “slum” di Mumbai atau bahkan di India. Kami ber enam ( termasuk turis lain dari UK, US dan India) dipandu satu orang guide yg merupakan penduduk asli Dharavi sejak 3 generasi, sangat fasih berbahasa inggris dan komunikatif. Kenapa ikut tour ini? Awalnya karena sejak menonton film slumdog millionaire, saya curious banget dengan kehidupan yang ada di slum area.

Dharavi dihuni oleh kurang lebih 1 juta orang, yang berdesak desakan dalam area yg besarnya kurang lebih 217 hektar. Sudah bisa membayangkan ya sekarang betapa Dharavi sangat padat dan penuh sesak? Mayoritas dari penduduknya hidup di rumah yang luasnya kurang dari 10m2. Tanpa toilet dan sangat tidak layak dari sisi kesehatan. Rumah mereka yang sempit itu harus berhimpitan dengan ratusan pabrik, dari pabrik kulit, pengolahan plastik bekas, pengolahan tanah liat sampai ke pasar dan tempat pemotongan kambing. Mereka juga harus berbagi udara dengan bau sampah yang menumpuk, saluran air yang mampat sampai bau busuk dari toilet publik. Oia, ngomong ngomong mengenai toilet, di Dharavi hanya ada dua pilihan toilet untuk memenuhi hajat paling mendesak bagi umat manusia yaitu pergi ke toilet umum dimana satu toilet harus berbagi dengan 1400 orang lainnya atau pergi ke tanah lapang dan buang hajat disana hehehe.

Kawasan sepadat Dharavi dihuni oleh berbagai macam suku di India dengan beragam agama dan bahasa. Masing masing wilayah sudah di kapling sesuai dengan agama lalu kemudian bahasanya. Jadi, di Dharavi tidak hanya Hindi yang terdengar tapi juga bahasa Tamil yang dilafalkan suku yang berasal dari ribuan kilometer jauhnya di selatan atau bahasa Bengal dari pantai timur yang juga jauh. Di Dharavi kita juga bisa menemukan mesjid yang berdekatan dengan kuil.

Yang menarik dari Dharavi ini adalah, mayoritas orang yg hidup disana bukan sosok manusia yang tanpa karya. Kebanyakan mereka bekerja dan bahkan berbisnis di Dharavi. Dan dengan banyaknya pabrik, toko dan pasar di Dharavi, yang berarti juga mencerminkan nilai ekonomi yang besar, pemerintah Mumbai selalu kesulitan setiap mencoba memindahkan mereka ke tempat yg lebih layak. Terlalu banyak kepentingan yang bermain disana. Apalagi menurut guide kami, hukum di India menyebutkan bangunan yang didirikan diatas tanah milik negara akan tetap dihormati sebagai hak kepemilikan individu. Wah kalo hal ini diterapkan di Indonesia, pak presiden dan jajarannya bisa pusing menghadapi para penghuni liar tanah negara hehe.

So, kalo ada yg berkesempatan datang ke Mumbai, sy merekomendasikan untuk ikut tour ini. Dan bisa ikut melalui Reality Tour and Travel dengan membayar 800 INR per orang ( kira2 160 ribu rupiah). Tour akan berjalan selama dua jam, dimana kita akan menyusuri Dharavi sejak di pinggiran sampai ke dalam, melalui gang gang sempit yang berkelok. Dan karena pengelola tour ini mempunyai hubungan baik dengan berbagai komunitas disana, tour berjalan tanpa hambatan karena tour ini berupaya sekuat mungkin untuk tidak menjadikan warga menjadi objek tontonan. Mengambil foto maupun video dilarang selama tur. Salah satu alasan saya memilih mereka karena 80% keuntungannya akan kembali kekomunitas. Mereka aktif dalam upaya memberdayakan generasi muda melalui pendidikan. Semangat dan niat luhur mereka tercermin dari poster yang terpampang di kantor mereka yang juga menjadi kelas pengajaran bagi anak anak muda, yaitu “seseorang yang datang dari daerah kumuh sekalipun tetap berhak atas pendidikan yang layak”

Salam dari Mumbai, Shukuriya.

View All

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *