Dari satu bandara ke bandara lainnya

Bandara adalah tempat yang pertama kita yang kita datangi sekaligus tempat terakhir yang kita singgahi dalam perjalanan kita ke satu tempat. Ketika kita menyinggahi satu bandara, banyak yang kita harapkan dari bandara tersebut. Sebut saja misalnya bangunan yang megah, petugas imigrasi yang ramah, toilet yang bersih dan wangi, tempat duduk yang nyaman, hingga ke fasilitas wifi gratis yang merupakan kebutuhan primer saat ini.

Bandara Changi di Singapura adalah bandara terbaik didunia menurut Skytrax dan saya yakin semua orang yang pernah ke Changi akan mempunyai pendapat yang sama. Changi menjadi rujukan bandara seperti apa yang bisa memberikan kepuasan maksimal bagi para traveler. Dari bangunan yang megah dan mewah, tempat duduk nyaman yang bertebaran dimana mana, karpet yang selalu bersih, toilet yang resik dan wangi, petugas yang ramah dan tanggap dan fasilitas wifinya gratis dengan kecepatan tinggi. Bagaimana dengan bandara lainnya?

Bandara Dubai adalah bandara yang tidak kalah keren. Wifi kenceng, fasilitas lengkap dan shopping surgawi bagi para penumpang. Karena sudah lebih dari 10 kali saya menyinggahi bandara tersebut, ada kalanya saya harus berlari sekencang kencangnya menuju gate keberangkatan karena terlalu asik keliling dari satu toko ke toko lainnya hehehe. Bandara Sultan Hamad di Qatar juga keren. Selain bangunannya baru, fasilitasnya juga fantastis. Saya menyinggahi bandara tersebut saat transit selama 12 jam sebelum melanjutkan penerbangan ke London dengan Qatar Airways, pada bulan Juli 2014. Saat itu saya mendapatkan tiket promo dengan harga miring yang ternyata harus saya kompensasi dengan waktu transit yang amat panjang. Sampai di bandara jam 12 malam local time dan baru melanjutkan perjalanan pada jam 2 siang keesokan harinya. Begitu sampai, tentu saya langsung mencari spot terbaik untuk bisa tidur. Ternyata di bandara tersebut ada satu tempat yang tersedia banyak kursi tidur panjang. Namun saya belum beruntung, karena saat saya memasuki ruangan tersebut, seluruh tempat tidurnya sudah terisi. Gagal tidur disitu, saya langsung melipir ke musholla. Ternyata juga sama, musholla sudah penuh dengan orang2 yang tidur. Pulas sekali mereka tidur, suara ngorok bersahut sahutan hehehe. Malam itu, saya tidak tidur sama sekali. Lumayan jadi zombie, otak sudah ngga bisa mikir, pandangan kosong, pusing semalaman. Dan baru bisa saya balas pada penerbangan dari Qatar menuju London.

Namun, tidak semua bandara di negara maju sekeren Changi, Dubai atau Qatar. Saya pernah singgah di bandara budget saat saya terbang menggunakan budget airlines. Seperti misalnya saat saya singgah di bandara Luton dan Stansted di London, serta bandara Orly di Paris. Fasilitas bandara tersebut sangat basic sekali. Jangan berharap ada wifi gratisan, apa2 bayar. Bahkan di Stansted dan Luton untuk menggunakan troly pun harus bayar 1 pound ck ck ck. Karena ga ada wifi gratis, saat saya pertama kali mendarat di Stansted setelah perjalanan panjang 12 jam dari Kuala Lumpur, saya harus cari warnet untuk sekedar memberi kabar orang dirumah. Harganya 1 pound untuk 10 menit browsing, dem!

Salah satu bandara yang paling berkesan bagi saya adalah Tribuvan International Airport di Kathmandu Nepal. Ngga ada yang istimewa sebetulnya dari bandara tersebut, mengingat Nepal sendiri adalah negara yang masuk dalam jajaran negara negara termiskin di dunia. Namun, saya jamin pemandangan pegunungan Himalaya sesaat sebelum kita mendarat atau setelah lepas landas, akan meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Bandara Malpensa di Milan juga meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Ketika saya lumayan grogi menghadapi pasukan keamanan lengkap yang dengan teliti memeriksa semua penumpang yang akan check in, eh ketika dia tau saya dari Indonesia, spontan petugasnya bilang “Ah Indonesia, Erick Thohir!”. Kami langsung tertawa bareng hahaha, eh kemudian sy bilang kalo saya tifosi Milan loh bukan Interisti. *Ngga rela hahaha!

Bicara mengenai security bandara, saya memilih bandara Perth sebagai bandara yang paling ketat dan lumayan bikin grogi. Sebelum saya berangkat, saya banyak mendengar bahwa imigrasi Aussie adalah salah satu imigrasi yang lumayan ketat banget. So, saya sangat berhati hati menjaga barang bawaan saat saya mengunjungi Perth pada bulan Juni 2014 lalu. Namun, walaupun saya merasa sudah memenuhi semua ketentuan imigrasi, saya tetap saja merasa grogi ya hahaha. Apalagi kemudian saya mendapat giliran random interview dari petugas imigrasi yang menanyakan saya pertanyaan mendetail seperti tujuan saya ke Australia ngapain, tinggal dimana dan berapa lama akan tinggal dll. Lumayan deg degan juga loh, Gosh!

Dari semua bandara yang pernah saya kunjungi itu, ada satu bandara yang menurut saya adalah bandara terkacrut di dunia, yaitu bandara Ataturk di Istanbul. Gelar bandara terkacrut sedunia itu saya berikan karena hal ini: bagaimana mungkin bandara semegah itu tidak menyediakan wifi gratis? Pada kunjungan kedua saya ke bandara tersebut di Juni 2015, saya harus transit beberapa jam di sana setelah menempuh perjalanan panjang dari Singapore untuk kemudian melanjutkan penerbangan ke London. Begitu sampai di lounge transit, saya mendapat kabar dari kantor ada beberapa transaksi ebanking yang harus saya approve. Mau ga mau saya harus cari akses internet, karena males jalan cari wifi berbayar, saya langsung saja buka HP saya dan mengaktifkan paket data roaming saya. Hanya dalam hitungan menit transaksi selesai, saya langsung memutus sambungan internet saya tersebut. Beberapa detik kemudian, ada sms notifikasi dari Indosat bahwa pemakaian pulsa pascabayar saya sudah melampaui limit. Iseng iseng saya cek pemakaian pulsa saya dan betapa kagetnya saya bahwa pemakaian internet yang hanya beberapa menit tersebut menghabiskan biaya roaming sampai dengan 1,2 juta!! Dem!! Sia sia rasanya saya mendapatkan tiket murah Singapore – Istanbul – London PP dengan harga 600 USD saja. Sejak itulah, saya menobatkan Ataturk Airport sebagai bandara terkacrut didunia!

Ada banyak hal menarik dari satu airport yang bisa kita lihat, pemandangan mengharukan dari orang yang harus berpisah dari sang terkasih sampai pertemuan orang orang yang membuncah kerinduannya. Pemandangan orang orang dari berbagai bangsa dari negeri negeri yang jauh dengan berbagai atribut etnis dan kepercayaan yang dianut. Dari semua kisah, yang paling berkesan bagi saya adalah ketika saya mendarat di bandara Jeddah saat hendak menunaikan ibadah umroh pada tahun 2013 lalu. Lupakan petugas imigrasi kerajaan yang menyebalkan dan arogan yang menyebabkan antrian panjang di setiap counter imigrasi. Namun, pemandangan orang orang dari berbagai bangsa yang hendak menuntaskan impiannya melihat Kabah dengan mata kepalanya sendiri dan bershalawat secara langsung kepada kanjeng Nabi di tempat peristirahatannya yang terakhir begitu mengharukan. Apa lagi yang lebih indah dari itu?

View All

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *