Bis Mania, pengalaman naik bis antar kota antar negara

Menurut saya, melakukan perjalanan melalui jalan darat jauh lebih menyenangkan dibandingkan lewat udara. Banyak yang bisa dilihat di perjalanan dan banyak kemungkinan pula untuk kita dapat berinteraksi dengan warga lokal. So, jika waktu traveling saya tidak mepet dan tidak harus buru buru, saya lebih suka melakukan perjalanan dengan kereta api atau bis umum dibandingkan naik pesawat terbang.

Kondisi bis di setiap negara berbanding lurus dengan tingkat kemakmuran negara tersebut. Sebagai contoh, saat saya melakukan perjalanan darat dari Glasgow ke London dengan bis untuk menempuh jarak 556 km dalam waktu hampir 9 jam, saya merasakan perusahaan bis yang saya naiki (National Express) sangat concern terhadap keselamatan para penumpang. Cerita mengenai bis di negara maju yang selalu berangkat tepat waktu, setiap penumpang dapat kursi masing masing dan setiap kursi ada seatbeltnya mungkin cerita yang sudah lama saya dengar dan juga pernah saya alami. Pengalaman paling berkesan untuk saya ketika naik bis itu adalah ketika pak sopir memberikan safety briefing didepan para penumpang sebelum bis berangkat! Dia berbicara dalam bahasa dan intonasi yang sopan, dengan aksen khas Skotlandia, dia bilang bahwa para awak bus sangat care dengan keselamatan penumpang dan jika ada hal hal yang dikhawatirkan jangan ragu menghubungi mereka katanya, OMG! Pak sopir dan pak sopir cadangannya berpenampilan khas kaum pekerja kerah biru di Inggris, tampang keras, rambut cepak, baju kemeja yang lengan bajunya dilinting plus ada tato di setiap lengannya. Ternyata dibalik penampilan gahar mereka, tersimpan niat mulia untuk memberikan pelayanan prima kepada para penumpangnya hehehe.

Pengalaman saya naik bis di UAE juga berkesan. Ceritanya, waktu saya dan istri jalan jalan ke Abu Dhabi dari Dubai dengan naik bis antar kota dari Bur Dubai. Bus berangkat setiap 30 menit dari jam 6 pagi hingga jam 12 malam. Dan berangkat on time! Yang berkesan, tempat duduk penumpang diatur berdasarkan gender. Penumpang yang berlainan jenis, kecuali suami istri atau yang masih ada hubungan darahnya, diharamkan duduk di satu bangku. So, cinlok antar penumpang bis hampir sangat mustahil hehehe. Bis terasa berjalan dengan sangat lambat, sepertinya kecepatan dibatasi. Jarak 160 km harus ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam. Dari jendela, pemandangan gurun yang gersang mendominasi dan terasa membosankan. Saat itu, rasanya pengen cepat cepat sampai di Abu Dhabi hehehe.

Saat saya melakukan perjalanan dengan bis di negara berkembang, banyak hal unik yang saya alami selama di perjalanan. Ah, lupakan dengan semua hal yang kita bisa dapatkan saat naik bis di negara maju. Selamat di tujuan dengan selamat juga udah bersyukur hehehe. Waktu saya melakukan perjalanan darat dari Hatyai ke Phuket selama 8 jam, saya terpaksa harus mendengarkan lagu lagu Thai yang diputarkan secara nonstop! Ada kalanya saya bisa mengistirahatkan kuping saya dengan mendengarkan lagu lagu dari ipod saya, namun ketika batere ipod habis saat itupula saya seperti dipaksa alam semesta untuk mendengarkan lagu lagu Thai yang mendayu dayu itu, eh tapi lama lama ko jadi lumayan enak juga di dengernya ya hahahaha. Buktinya berminggu minggu setelah kepulangan saya ke tanah air, saya masih bisa mengingat dengan baik nada dan irama lagu lagu itu hehehe.

Waktu saya naik bis umum dari Kuala Lumpur menuju Singapura juga berkesan. Saya sengaja naik bis tingkat 2 walaupun beresiko waktu tempuh jadi sedikit lebih lama. Enak banget, bis nyaman dengan kursi yang empuk. Lumayan bisa tidur di sepanjang 5 jam perjalanan. Apalagi ternyata pemandangan di jendela bis sangat membosankan, yang terlihat hanya perkebunan sawit di sepanjang perjalanan. Ketika naik bis antar negara dari Malaysia ke Singapura atau sebaliknya, jangan lupa untuk mengingat dengan baik bus yang kita naiki. Karena ketika bis memasuki pintu perbatasan antar negara, semua penumpang harus turun menuju imigrasi, lalu setelah urusan cap passport sudah clear barulah kita naik bis yang sama untuk melanjutkan perjalanan. Jangan sampai ketinggalan!

Pengalaman naik bis umum di Nepal juga seru. Saya naik bis dari Kathmandu ke Pokhara dengan tourist bus yang harus menempuh perjalanan 200 km dalam waktu hampir 7 jam. Perjalanan harus ditempuh selama itu karena banyak jalan yang rusak dan jalur yang berkelok kelok. Baiknya memang kita naik bis turis jika melakukan perjalanan antar kota di Nepal. Selain bisnya lumayan nyaman, penumpang juga dibatasi sesuai dengan jumlah tempat duduknya. Selain itu jadwal juga lumayan tepat waktu. Saya pernah naik local bis di Nepal saat harus bepergian dari Nagarkot ke Kathmandu. Bisnya sudah berumur, penumpang harus berdesak desakan di dalam bis, mirip sarden. Untungnya bis menempuh jalur pegunungan, jadi hawa sejuk dari luar bis membuat udara didalam bis tidak terlalu sumpek hehehe. Namun, untungnya naik local bus adalah harganya yang amat sangat murah. Apalagi muka orang Indonesia itu mirip mirip dengan orang Nepal, jadi kecil kemungkinan kenek bis menagih biaya tambahan hehehe.

Ternyata, pengalaman naik bis terbaik saya justru saya alami saat naik bis umum di negeri sendiri. Saat itu saya naik bis dari Atambua menuju Kupang, setelah sebelumnya juga menempuh perjalanan darat selama 5 jam dari Dili menuju perbatasan Timor Leste – Indonesia di Batu Gade. Bis penumpang jurusan Atambua Kupang itu besarnya seperti bis metromini, dan harus menempuh jalur Trans Timor yang legendaris, jalan raya yang menghubungkan kota kota pelosok di pulau Timor hingga ke Kupang, ibu kota NTT. Yang membuat saya terkesan dengan perjalanan itu adalah karena selama 7 jam perjalanan, pak sopir kok ya berani beraninya ngebut di jalan yang lebarnya hanya muat untuk dua kendaraan, berkelok kelok menembus hutan dan bukit. Namun, pak sopir yang ugal ugalan itu ternyata berhati rinto, karena lagu lagu melankolis dari era 80an seperti lagu lagunya Pance F Pondaag, Obie Mesakh, Betharia Sonata, Dedi Dores (yang tau nama nama itu berarti sudah tua! Hahahaha) tidak henti hentinya mengalun di sepanjang perjalanan. Eh lumayan efektif ternyata untuk menurunkan tensi ketegangan para penumpang hehehe. Buktinya ga ada penumpang yang protes tuh dengan cara pak sopir membawa bis itu, atau sudah pasrah ya? Hahahaha!

View All

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *